Akibat peristiwa itu, tokoh peraih Nobel Perdamaian dan orang nomor satu di pemerintahan Myanmar, Aung San Suu Kyi dikritik oleh para pegiat dan pengacara hak asasi manusia karena tidak berupaya menghentikan kekerasan terhadap masyarakat minoritas Muslim, terutama etnis Rohingya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketegangan agama telah terjadi di negara mayoritas Buddha itu selama hampir setengah abad sejak pemerintahan junta militer. Tahun 2012 lalu terjadi konflik berdarah yang melibatkan Rohingya dan umat Buddha Rakhine.
Ribuan warga Rohingya yang merupakan kelompok marjinal yang terdiskriminasi di Myanmar kabur mengungsi. Etnis yang disebut PBB sebagai yang "paling teraniaya di dunia" ini tidak diakui kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar kendati telah tinggal beberapa generasi di negara itu.
Saat ini ada 125 ribu Muslim Rohingya yang masih mengungsi di kamp bagian barat negara itu.
Kekerasan antara warga Muslim dan Buddha juga terjadi di beberapa wilayah pada tahun 2013 dan 2014.
Pada Juni tahun ini, ratusan orang menghancurkan sebuah masjid dan melukai seorang warga Muslim di wilayah tengah Myanmar setelah cekcok masalah pembangunan pesantren.
Dalam peristiwa terpisah awal Juli lalu di bagian utara Myanmar, sekitar 500 warga Buddha membakar sebuah masjid. Polisi menahan lima orang terkait peristiwa ini.
Badan keagamaan Buddha di Myanmar, Komisi Negara Sangha Maha Nayaka, dalam pernyataannya pekan ini mengatakan sama sekali tidak mendukung dan mengecam tindakan kekerasan anti-Islam yang dilakukan Ma Ba Tha. (den)