Donald Trump, calon presiden dari Partai Republik, menyerang rivalnya dari Demokrat, Hillary Clinton, yang ia tuding terkait dalam kematian Amiri.
“Banyak orang yang mengatakan bahwa Iran membunuh ilmuwan yang membantu AS karena email Hillary Clinton yang diretas,” ujar Trump lewat akun Twitter pada Senin (8/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Luar Negeri AS juga merilis pernyataan yang berisi bantahan soal email yang menyebut Amiri dan eksekusinya.
Elizabeth Trudeau, juru bicara kemenlu mengatakan bahwa “itu adalah laporan publik soal topik tersebut pada 2010,” merujuk pada sebuah konferensi pers di mana Clinton menyebut nama Amiri.
Amiri awalnya dielukan sebagai pahlawan ketika ia kembali ke Iran enam tahun lalu. Ketika itu, ia mengklaim telah diculik oleh mata-mata AS ketika sedang pergi haji ke Arab Saudi. Ia mengatakan ditawari jutaan dolar untuk menjadi mata-mata AS namun menolak tawaran tersebut.
Lihat juga:Donald Trump Terancam Dicekal di Filipina |
Ahad kemarin, otoritas Iran mengumumkan bahwa Amiri telah digantung karena memberi rahasia nuklir Iran ke pihak musuh.
“Ia dibawa ke pengadilan dan dinyatakan bersalah dan divonis hukuman mati,” kata Gholam-Hossein Mohseni, juru bicara kementerian kehakiman Iran.
Lihat juga:Iran Hukum Mati Ahli Nuklirnya |
Sementara itu, pejabat AS mengatakan bahwa Amiri bersedia membelot namun kemudian mengubah pendiriannya, memilih untuk kembali ke Iran untuk berkumpul dengan keluarganya.
“Amiri berada di Amerika Serikat atas kehendaknya sendiri dan ia bebas untuk pergi,” kata Clinton dalam konferensi pers pada Juli 2010.
[Gambas:Video CNN] (stu)