"Ada banyak bukti bahwa itu benar-benar memang terjadi," kata de Mistura, Kamis (11/8), dikutip dari Al-Arabiya.
De Mistura menegaskan bahwa jika penggunaan gas klorin terkonfirmasi maka serangan itu akan dianggap kejahatan perang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Khatib mengatakan ia menyimpang potongan baju yang dikenakan pasien dan sejumlah fragmen bom barel sebagai bukti untuk dianalisis.
Sejauh ini, belum jelas cara untuk memastikan bahwa gas klorin digunakan dalam serangan itu.
Ini bukan kali pertama dugaan penggunaan gas klorin mengemuka dalam konflik di Suriah dalam dua minggu terakhir. Mengulangi peringatan kejahatan perang PBB, Amnesty International menyatakan bahwa, "Ini merupakan kali ketiga laporan dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah utara hanya dalam waktu dua pekan dan dilaporkan menewaskan sedikitnya empat orang."
Lembaga pemerhati HAM itu mengonfirmasi setidaknya 60 orang lainnya, sebagian besar anak-anak, menerima perawatan medis setelah menunjukkan gejala khas dari serangan klorin.
"Serangan di Aleppo ini merupakan pelanggaran mencolok lainnya dari hukum kemanusiaan internasional dan memberi sinyal akan pola menyedihkan dalam penggunaan senjata kimia oleh pasukan rezim," kata Magdalena Mughrabi, Wakil Direktur Amnesty International untuk Program Timur Tengah dan Afrika Utara.
"Kami menyerukan penghentian segera serangan udara terhadap sasaran sipil di Aleppo. Sangat penting bahwa serangan kimia dan berbagai bentuk kejahatan perang lainnya berakhir sekarang. Kami juga menyerukan jalur bantuan yang bebas dan terbatas hingga dapat menjangkau puluhan ribu warga yang terjebak di kota timur," kata Mughrabi.
Di tengah kondisi perang, mencari bukti penggunaan gas klorin terhadap warga sipil bisa jadi sangat menyulitkan.
Mukhtar mengatakan jika "semuanya terbukti," maka Dewan Keamanan PBB harus mengambil "keputusan" tentang apa yang perlu dilakukan. Mukhtar menyinggung bahwa hingga kini Amerika Serikat masih belum siap untuk terlibat lebih jauh dalam konflik Suriah. (ama)