Wakil juru bicara Kepolisian Kerajaan Thailand, Piyaphan Pingmuang, mengonfirmasi kepada Bangkok Post bahwa memang ada beberapa tersangka yang sedang diinterogasi, tapi tak menyebut jumlah pasti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan bahwa Thailand tidak memiliki konflik ras atau agama di antara etnis minoritas dan juga tak berada di bawah ancaman yang terkait dengan kelompok militan ISIS.
Menurut Piyaphan, serangan ini dipicu akibat memanasnya konflik internal dan dimaksudkan untuk membuat kekacauan.
Sebelumnya, kepolisian Thailand menyebut kejadian tersebut berkaitan dengan peristiwa politik dalam negeri.
Saat ledakan terjadi, Thailand baru saja menggelar referendum untuk mengadopsi konsitutsi yang disokong militer pada Minggu lalu. Namun, kepolisian belum mengambil kesimpulan bahwa serangan ini memang dipicu oleh hasil referendum itu.
Otoritas Thailand sendiri ternyata sudah memiliki informasi intelijen mengenai kemungkinan serangan sebelum rangkaian ledakan terjadi sejak Kamis (11/8) malam.
Rangkaian insiden ini bermula pada Kamis tengah malam, ketika dua bom meledak di kawasan wisata di Hua Hin, merenggut satu nyawa dan melukai 21 orang lainnya.
Di hari yang sama, meledak pula satu bom di Provinsi Trang dan menelan satu korban nyawa serta melukai tujuh orang lainnya.
Sehari kemudian, Jumat (12/8) pagi, serangkaian bom kembali meledak di beberapa titik, yaitu Hua Hin, Surat Thani, Phuket, Phangnga, Trang, Krabi, Chumphon, dan Nakhon Si Thammarat. (den)