Insiden terjadi pada 4 Juli tahun lalu, ketika Itemid Al-Matar, yang tengah menunaikan ibadah puasa Ramadan, menunggu kereta di sebuah stasiun di Chicago dengan harapan dia dapat segera tiba di rumah, bertepatan dengan waktu maghrib.
Menurut catatan pengadilan, Al-Matar, 32, pindah ke Chicago dari Arab Saudi dua tahun lalu untuk belajar bahasa Inggris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Penelitian: Islamofobia Meningkat di Jerman |
Al-Matar ditangkap dan didakwa dengan perilaku sembrono dan sejumlah tuduhan lainnya terkait upaya menghalangi keadilan. Juni lalu, seorang hakim di wilayah Cook County menghapus tuduhan pertama tersebut dan menyatakan bahwa Al-Matar tidak bersalah atas tuduhan lainnya.
"Jika mereka merasa bahwa ia melanggar peraturan, pendekatan awal petugas seharusnya, 'Maaf, Pak,' atau 'Maaf, Bu, bisa saya hanya mengajukan pertanyaan?', 'Siapa nama Anda dan ke mana Anda pergi? '" kata Kulis, dikutip dari media lokal, Chichago Tribune.
Gugatan hukum ini mengutip pengakuan Wali Kota Rahm Emanuel pada Desember lalu bahwa polisi gagal menyelidiki dan mendisiplinkan petugas yang terlibat dalam insiden yang dialami Al-Matar.
Kulis menyatakan bahwa tindakan polisi hanya berdasarkan informasi dari seseorang bahwa dia adalah seorang "pengebom tunggal."
"Sangat disayangkan bahwa di insiden di Chicago ini mencerminkan prasangka yang tertanam di benak sebagian orang," kata Kulis.
Gugatan ini menyebutkan penggunaan kekuatan polisi yang berlebihan, seperti penangkapan palsu, pemeriksaan tubuh yang melanggar hukum, tuduhan tak berdasar, dan pelanggaran terhadap kebebasan ekspresi keagamaan Al-Matar.
Direktur eksekutif dari Dewan Chicago untuk Hubungan Islam Amerika, Ahmed Rehab, menilai bahwa gugatan hukum ini akan memperpanjang pembahasan soal Islamofobia di AS.
Rehab menilai insiden itu menunjukkan bahwa Departemen Kepolisian Chicago masih perlu mencurahkan lebih banyak waktu untuk pelatihan sensitivitas terhadap para terduga pelaku kejahatan.
Rehab juga mencatat, karena Al-Matar dipenjara pada malam insiden itu terjadi, ia tidak bisa berbuka puasa hingga hari berikutnya.
"Dia adalah manusia. Di bawah pakaian yang sederhana ini, dia adalah manusia yang memiliki hati dan perasaan. Kami paham bahwa bagi sebagian orang dia mungkin terlihat seperti seseorang menakutkan. Tapi tidak alasan untuk tidak memperlakukan dia selayaknya manusia," kata Rehab. (ama/den)