Para pengamat menyatakan bahwa publik pasti akan menaruh kecurigaan kepada para penentang referendum ataupun kelompok pemberontak dari provinsi mayoritas Muslim di selatan Thailand. Pasalnya, rangkaian ledakan itu terjadi hanya beberapa hari setelah referendum menunjukkan bahwa rakyat Thailand menerima amandemen konstitusi yang akan mengukuhkan kekuasaan militer di pemerintahan Thailand selanjutnya.
Khawatir bahwa pengikut Thaksin Shinawatra dan saudarinya, Yingluck Shinawatra, yang menjabat sebagai perdana menteri periode 2011-2014, disalahkan atas rangkaian serangan bom itu, tokoh senior dari Partai Puea Thai merilis pernyataan yang menampik tuduhan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, partai anti-pemerintah, Front Bersama untuk Demokrasi Melawan Kediktatoran (UUD) atau yang dikenal juga dengan kelompok "kaus merah" yang bersimpati kepada keluarga Shinawatras, turut mengecam serangan tersebut dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu.
Lihat juga:Delapan Bom Dalam 24 Jam di Thailand |
Polisi Thailand mengungkapkan bahwa selama akhir pekan mereka menemukan dan berhasil menjinakkan lima bom yang gagal meledak. Polisi menyatakan bahwa mereka telah menangkap dan tengah menginterogasi setidaknya satu tersangka. Polisi meyakini lebih dari satu individu terlibat dalam rangkaian serangan tersebut, sembari memantau herakan sejumlah tersangka lainnya.
Polisi dan kementerian luar negeri Thailand mengesampingkan motif terorisme dalam serangan ini. Namun, Kepala Polisi Jakthip Chaijinda kemudian mengatakan bahwa perangkat bom yang meledak serupa dengan yang digunakan oleh separatis Muslim.
Selama lebih dari satu dekade, rakyat Thailand terbagi antara pendukung kebijakan populis yang diusung Thaksin dan royalis serta pendukung junta militer. Junta menggulingkan Thaksin dalam kudeta tahun 2006, dan menuduhnya korupsi.
Saudari Thaksin, Yingluck kemudian menjabat sebagai perdana menteri setelah memenangi pemilu tahun 2011, namun kemudian digulingkan dalam kudeta pada 2014 pimpinan Jenderal Prayuth Chan-ocha yang kini menjabat sebagai perdana menteri.
Rangkaian insiden ini bermula pada Kamis tengah malam, ketika dua bom meledak di kawasan wisata di Hua Hin, merenggut satu nyawa dan melukai 21 orang lainnya. Di hari yang sama, meledak pula satu bom di Provinsi Trang dan menelan satu korban nyawa serta melukai tujuh orang lainnya.
Sehari kemudian, Jumat (12/8) pagi, serangkaian bom kembali meledak di beberapa titik, yaitu Hua Hin, Surat Thani, Phuket, Phangnga, Trang, Krabi, Chumphon, dan Nakhon Si Thammarat. (ama)