Foto Omran yang duduk terdiam dalam ambulans sesaat setelah dia diselamatkan petugas dari reruntuhan pada Rabu (17/8) mengejutkan publik dunia dan menjadi viral di media sosial. Dalam foto itu, raut wajah Omran datar, namun menampakkan kengerian yang jelas dengan seluruh tubuhnya diselimuti debu, kepalanya terluka dan darah yang mengucur ke pipinya. Foto Omran menjadi simbol penderitaan warga Suriah akibat perang.
Informasi soal Omran juga didapatkan TIME dari Khaled Khatib, seorang fotografer untuk gerakan Pertahanan Sipil Suriah. "Omran dan keluarganya dalam kondisi baik sekarang, semua keluarganya selamat."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Omran dirawat di rumah sakit setelah serangan militer di kawasan Qaterji yang dikuasai pemberontak di Aleppo timur, di kota yang dilanda pertempuran sengit antara pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad dan kelompok pemberontak. Dalam serangan udara pada Rabu, tercatat tiga warga tewas dan 10 lainnya terluka, termasuk Omran.
[Gambas:Video CNN]
Fotografer Mohammed Raslan Abu Sheikh di Aleppo, sebelumnya mengungkapkan bahwa ketika diselamatkan ke ambulans, Omran dalam keadaan sangat terkejut sehingga menangis pun dia tidak bisa.
"Ibu dan ayahnya kemudian tiba [di rumah sakit] tak lama setelah itu. Hanya setelah ia melihat keluarganya, Omran mulai menangis," ujar McNeill.
Sementara itu, Khatib yang berada di lokasi kejadian, mengungkapkan bahwa banyak bocah yang terluka seperti Omran kerap dia temui dalam pekerjaanya memotret pertempuran yang berlangsung di Suriah.
Kelompok pemerhati perang sipil Suriah, Syrian Observatory for Human Rights memperkirakan bahwa lebih dari 14 ribu anak tewas sejak perang sipil meletus di negara itu pada 2010.
Simpati dan kecaman deras mengalir di sosial media, beberapa mengaku tidak tahan melihat foto Omran lantaran mengingat putra mereka yang berusia sama.
Foto mayat Kurdi yang telungkup di pasir pantai Bodrum ramai dibagikan di media sosial dan jadi fokus pembicaraan dunia.
Beberapa pengguna media sosial menyalahkan Barat, terutama Amerika Serikat dan Rusia yang tidak mampu menghentikan konflik Suriah, bahkan malah memperparahnya.
Utusan khusus PBB untuk Suriah Staffan de Mistura memperkirakan per April korban tewas konflik di negara itu telah mencapai 400 ribu orang. Sebanyak 4,8 juta warga tercatat mengungsi dari Suriah, terserak di beberapa negara, seperti Turki, Libanon, Yordania, Mesir dan Irak. Sementara 6,6 juta lainnya masih di Suriah dan kehilangan tempat tinggal. (ama)