Anak yang diperkirakan berusia antara 11-15 tahun ini bukan yang pertama digunakan sebagai "bom berjalan" oleh kelompok militan, bahkan cara ini kian dipilih untuk menyerang lawan. Dalam ledakan di Turki yang menewaskan lebih dari 50 orang, aparat juga mengatakan pelakunya adalah pengebom bunuh diri anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ISIS sering menampilkan anak-anak dalam video-video propaganda mereka. Anak-anak yang dijuluki "Anak Singa Khalifah" ini dilatih menggunakan senjata dan bom. Dalam beberapa video, mereka terlihat melakukan eksekusi mati tawanan.
"Perekrutan anak di kawasan itu meningkat. Anak-anak mengambil peran lebih banyak, mereka dilatih menggunakan senjata berat, menjaga pos pemeriksaan di garis depan, bertugas menjadi sniper, dan dalam kasus yang ekstrem menjadi pengebom bunuh diri,
kata juru bicara regional UNICEF, Juliette Touma.
Hisham al-Hashimi, penasihat keamanan pemerintah Irak mengatakan ISIS tahun ini telah mengaktifkan Brigadi Pemuda Surga menyusul kekalahan di beberapa wilayah.
"Pemuda paling mudah direkrut untuk misi bunuh diri, terutama saat tengah menderita atau putus asa akibat kehilangan orang tercinta. Mereka juga tidak menarik perhatian dan kecurigaan dibanding orang dewasa," kata Hashimi.
Seorang anak di Kirkuk ditangkap aparat karena membawa bom. (Reuters/Ako Rasheed) |
Taktik ini diikuti oleh kelompok militan di Afrika Barat. PBB mencatat sebuah bom bunuh diri yang diledakkan anak gadis berusia 10 tahun di kota Maiduguri, Nigeria, tahun lalu yang menewaskan 16 orang. Aparat mengatakan saat itu, bahan peledak melingkar di tubuh anak tersebut.
Dalam laporannya bulan April lalu, UNICEF mengatakan serangan yang melibatkan pengebom bunuh diri anak antara 2014 dan 2016 meningkat empat kali lipat di timurlaut Nigeria, basis Boko Haram, dan negara tetangganya seperti Kamerun, Niger dan Chad.
Pada Maret lalu, seorang gadis berusia 12 tahun gagal meledakkan bom di tubuhnya di Kamerun. Kepada polisi dia mengaku diculik Boko Haram di desanya setahun sebelumnya.
Laporan UNICEF menyebutkan, hampir sepertiga pengebom bunuh diri anak adalah perempuan. Dalam enam bulan pertama tahun ini saja, UNICEF mendata ada 38 pengebom anak di Afrika Barat. "Ini adalah hal yang membedakan konflik kali ini," kata Thierry Delvigne-Jean, staf UNICEF di Afrika. (den)
Seorang anak di Kirkuk ditangkap aparat karena membawa bom. (Reuters/Ako Rasheed)