"Ini bukan hanya masalah identifikasi diri komunitas Rohingya. Orang yang sudah tinggal di negara ini untuk beberapa generasi harus menikmati status legal dan kewarganegaraan yang sama seperti orang lain," ujar Ban dalam jumpa pers bersama pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, Selasa (30/8).
Keadaan kaum minoritas Rohingya memang kian memprihatinkan. Tak mendapatkan hak kewarganegaraan, mereka hingga kini masih ditampung di kamp-kamp di daerah Rakhine, di mana kekerasan antara kaum Buddha dan Rohingya terus berkecamuk.
Lihat juga:Ratusan Pagoda Hancur dalam Gempa di Myanmar |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun akhirnya pada pekan lalu, ia membentuk komisi pemberantas pelanggaran hak asasmi manusia di Rakhine dengan menunjuk mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, sebagai ketuanya.
Menurut pihak Suu Kyi, komisi ini akan berfokus pada pencegahan konflik, mengupayakan bantuan kemanusiaan, serta rekonsiliasi nasional, hak asasi manusia, dan pembangunan di Rakhine.
"Situasi di Rakhine memang kompleks dan pemerintah sudah memastikan kepada saya mengenai komitmen untuk mengatasi masalah akarnya. Semua rakyat Myanmar, dari segala etnis dan latar belakang, harus dapat hidup dalam kesetaraan dan harmoni, berdampingan dengan tetangga mereka," kata Ban, seperti dikutip AFP.
Jumpa pers ini digelar di sela acara konferensi perdamaian untuk mengatasi masalah komunitas etnis minoritas di negara itu. Pertemuan selama lima hari tersebut dianggap sebagai tonggak perubahan dalam demokrasi Myanmar. (stu)