"Stasiun radio itu berulang kali menyiarkan konten yang mendorong, mempromosikan, dan mengagungkan kekerasan dan terorisme terhadap Israel," ujar seorang juru bicara tentara Israel kepada AFP, Rabu (31/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Israel sudah menutup setidaknya empat stasiun radio sejak gelombang kekerasan mulai kembali melanda kedua negara pada Oktober lalu.
Hingga kini, rangkaian kekerasan itu telah menewaskan 222 orang Palestina, 34 warga Israel, dua orang Amerika, seorang dari Eritrea, dan Sudan.
Menurut otoritas Israel, kebanyakan warga Palestina yang tewas tersebut membawa pisau, pistol, atau menabrakkan mobilnya ke pos keamanan.
Sementara itu, sejumlah orang lainnya ditembak mati oleh pasukan Israel ketika mengadakan aksi protes. Ada pula yang tewas akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza.
Beberapa analis mengatakan bahwa kekerasan ini terjadi karena keputusasaan Palestina terhadap pendudukan Israel dan pembangunan permukiman di Tepi Barat sehingga membuat proses perdamaian kian tersendat.
Namun, pihak Israel mengatakan bahwa hasutan dari para pemimpin Palestina dan media lah yang menyebabkan kekerasan itu terjadi. (den)