Diberitakan CNN, Rabu (14/9), ketegangan di Bangalore terjadi setelah pada 5 September lalu Pengadilan Tinggi memerintahkan negara bagian Karnataka melepaskan 15 ribu kaki kubik air per detik dari penampungan untuk meredam kekeringan di negara bagian tetangga, Tamil Nadu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami siap berkorban nyawa, tapi tidak Cauvery," kata seorang demonstran, menyebut nama sungai yang melintasi daerah mereka.
"Cauvery milik Karnataka," ujar massa saat itu.
Toko-toko dijarah dan lebih dari 100 mobil, bus dan truk di Bangalore dibakar. Seorang demonstran tewas ditembak polisi, korban tewas lainnya adalah warga yang jatuh dari ketinggian ketika menghindari penangkapan polisi.
Ribuan aparat diturunkan ke kota pusat teknologi India tersebut. Sementara aparat mengeluarkan larangan berkumpul dan menerapkan jam malam di beberapa wilayah. Menteri negara bagian Karnataka menyebutkan, 200 orang yang diyakini pengacau telah ditahan.
Akhirnya pengadilan tinggi menurunkan kembali jumlah aliran air ke Karnataka dari penampungan menjadi 12 ribu kaki kubik per detik setiap hari hingga 30 September.
Konflik dua negara bagian terkait pembagian air sungai Cauvery telah berlangsung sejak tahun 1800. Beberapa perjanjian telah disepakati, namun tidak ada yang berhasil menyelesaikan masalah.
Perdana Menteri India Narendra Modi menyerukan warga Karnataka untuk tenang dan menahan diri.
"Kekerasan tidak bisa memberi solusi untuk semua masalah. Dalam demokrasi, solusi ditemukan melalui sikap menahan diri dan dialog," kata Modi. (stu)