Terlahir dari keluarga Yahudi di Polandia pada 1923, Peres dan keluarganya melarikan diri dari penindasan di negaranya ke Palestina, yang saat itu berada di bawah pendudukan Inggris pada 1934, saat ia baru berusia 11 tahun. Pada dekade 1940-an, Peres kemudian bergabung dengan perjuangan Zionis pimpinan Ben Gurion, aktivis yang kemudian menjadi perdana menteri pertama Israel.
Sebagai warga Yahudi yang melarikan diri dari penindasan di Eropa, Peres vokal mendukung pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat pada awal kariernya di dunia politik, hingga ia dijuluki "sang elang."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shimon Perez dan Yasser Arafat menggagas perdamaian Israel dan Palestina. (Reuters) |
Peres kemudian menyerukan solusi perdamaian yang ia sebut "kompromi wilayah" terkait sengketa wilayah antara Palestina-Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza.
Peran Peres yang paling penting dalam upaya perdamaian ini terungkap ketika ia, yang saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri Israel, menggelar negosiasi rahasia yang mempertemukan pejabat Palestina dan Israel di Oslo, ibu kota Norwegia, pada musim salju 1993.
Menurut catatan situs resmi Penghargaan Nobel Perdamaian, pertemuan itu menghasilkan Perjanjian Oslo yang bertujuan untuk merekonsiliasi dua negara tersebut. Dalam perjanjian itu, Israel sepakat untuk perlahan keluar dari sejumlah wilayah yang diduduki dan mengakui otoritas Palestina.
Akibat perannya ini, Peres diganjar penghargaan Nobel Perdamaian pada 1994, bersama dengan perdana menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina, Yasser Arafat.
Shimon Perez menandatangani perundingan perjanjian damai Israel-Palestina di Oslo, disaksikan oleh Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat. (Reuters) |
AFP mencatat, Peres tetap aktif di dunia politik, meneruskan jabatan sebagai menteri luar negeri, dan kemudian terpilih sebagai perdana menteri selama dua periode. Ia terpilih menjadi presiden dari 2007-2014. Selama di dunia politik, Peres tetap mengupayakan perdamaian Palestina-Israel, namun upaya Peres seakan tak berarti karena pemerintahan Netanyahu seperti tak berniat melanjutkan proses perdamaian yang telah dirintis sebelumnya.
Selain berperan mendukung perdamaian Israel-Palestina, Peres juga vokal mendorong perkembangan program nuklir. Israel diyakni memiliki senjata nuklir meski tidak pernah secara terbuka mengumumkannya.
Dalam wawancara dengan CNN pada 1 Juli 2015, Peres mengaku mendukung kesepakatan nuklir dengan Iran, yang berfokus untuk menghentikan program nuklir di Republik Islam itu. Iran selama ini kerap mengancam akan "membumi hanguskan" Israel dengan serangan nuklir. (stu)
Shimon Perez dan Yasser Arafat menggagas perdamaian Israel dan Palestina. (Reuters)
Shimon Perez menandatangani perundingan perjanjian damai Israel-Palestina di Oslo, disaksikan oleh Yitzhak Rabin dan Yasser Arafat. (Reuters)