Peres, 93, dirawat di rumah sakit setelah terserang stroke berat sejak dua pekan lalu. Kondisinya dilaporkan sempat membaik sebelum kemudian kritis pada Selasa (27/9), menurut laporan berbagai media Israel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota keluarga Peres juga terlihat tiba di rumah sakit, namun menolak untuk berkomentar soal kondisi kesehatan Peres.
Peres, merupakan negarawan terkemuka Israel dan tokoh yang tak dapat dipisahkan dari berdirinya negara itu pada 1948. Dalam rentang karir hampir 70 tahun di pemerintahan, Peres menjabat di puluhan kabinet dan dua kali menjabat sebagai perdana menteri dari Partai Buruh.
Ia berbagi penghargaan Nobel Perdamaian dengan mendiang mantan perdana menteri Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat, karena ketiganya berhasil mencapai kesepakatan untuk berdamai melalui Perjanjian Oslo pada 1993, meski kesepakatan itu hingga kini belum menjadi sebuah perjanjian damai.
Menyusul pembunuhan Rabin pada 1995, karier politik Peres terus meroket, dengan menjabat sebagai pelaksana perdana menteri merangkap pelaksana menteri pertahanan selama tujuh bulan hingga pemilu tahun 1996. Ia mencoba menggunakan momentum pemilu untuk mengedepankan upaya perdamaian Israel-Palestina.
AFP mencatat, Peres aktif di dunia politik, meneruskan jabatan sebagai menteri luar negeri, dan kemudian terpilih sebagai perdana menteri selama dua periode. Ia terpilih menjadi presiden dari 2007-2014. Selama di dunia politik, Peres tetap mengupayakan perdamaian Palestina-Israel, namun upaya Peres seakan tak bergigi karena pemerintahan Israel seperti tak berniat melanjutkan proses perdamaian. (ama)