"Ketika Anda berbicara tentang hal itu sebagai bagian dari konflik global dan konflik regional, Anda akan melihat banyak faktor eksternal tidak dapat Anda kontrol, perang itu akan terus berlanjut berlarut-larut," kata Assad dalam wawancara dengan AP News, Kamis (22/9), dikutip dari Reuters.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan tersebut, Assad juga menegaskan bahwa Rusia tidak berada di balik serangan udara yang menghantam konvoi truk bantuan PBB dan Bulan Sabit Merah Arab Suriah (SARC) pekan ini, yang menewaskan setidaknya 20 warga sipil.
Sejumlah pejabat militer AS sebelumnya menuding Moskow bertanggung jawab atas serangan yang menghantam 18 dari 31 truk yang membawa bantuan kemanusiaan.
"Konvoi itu berada di daerah militan, di daerah yang berada di bawah kendali teroris. Karena itulah seharusnya mereka menuduh para militan atau teroris yang bertanggung jawab atas insiden konvoi ini," ujar Assad.
"Kami tidak tahu apa yang terjadi," ucap Assad.
Amerika Serikat dan Rusia kini tengah memimpin upaya diplomatik untuk menegosiasikan gencatan senjata yang dapat bertahan lama di penjuru Suriah. Kedua negara juga tengah berdiskusi soal mengkordinasikan serangan melawan militan ISIS dan kelompok militan yang sebelumnya dikenal dengan nama Front al-Nusra.
Gencatan senjata sebelumnya diterapkan pekan lalu dan hanya mampu bertahan selama tujuh hari. Aksi kekerasan pun kembali berkobar.
Assad juga mengaku ragu atas niat Amerika Serikat di Suriah. Menurut Assad, AS "tidak memiliki kemauan" untuk memerangi militan.
"Saya tidak percaya Amerika Serikat akan siap untuk bergabung dengan Rusia dalam memerangi teroris di Suriah. Amerika Serikat tidak tulus, dalam upaya menghentikan kekerasan di Suriah."
Pemerintah Suriah menganggap bahwa semua kelompok yang menentang rezim Assad adalah kelompok teroris. (ama/stu)