Kepolisian Dresden memastikan bahwa tak ada korban dalam insiden ini dan penyelidikan masih akan terus dilanjutkan.
Saat ledakan pertama terjadi, seorang imam sedang berada di dalam masjid bersama istri dan putranya, tapi mereka tak terluka. Namun, terdapat kerusakan di bangunan masjid akibat getaran ledakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun sampai sejauh ini belum ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab, kami harus meneliti apakah motif di balik ini merupakan xenofobia," ujar presiden kepolisian Dresden, Horst Kretzschmar, seperti dikutip Reuters, Selasa (27/9).
Dresden merupakan salah satu kota yang menjadi sarang gerakan anti-Islam, PEGIDA. Unjuk rasa dari kelompok ini semakin populer di tengah masyarakat sejak awal 2015, hingga dapat mengumpulkan 20 ribu pendukung.
Popularitas PEGIDA semakin melejit gelombang pengungsi membanjiri Eropa pada tahun lalu dan meningkatkan ketegangan sosial, terutama karena adanya sejumlah serangan besar di tempat penampungan pengungsi di Jerman. (stu)