Korban Boko Haram Terpaksa Jual Diri Demi Makanan

Amanda Puspita Sari/Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 28/09/2016 15:42 WIB
Korban Boko Haram Terpaksa Jual Diri Demi Makanan Wanita korban kelompok militan Boko Haram yang kini tinggal di kamp pengungsian mengaku terpaksa menjual diri untuk memberi makan lima orang anaknya. (Reuters/Afolabi Sotunde)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang perempuan korban kelompok militan Boko Haram yang kini tinggal di kamp pengungsian mengaku terpaksa menjual diri untuk memberi makan lima orang anaknya. Keputusan ini ia ambil karena tak tega melihat kelima anaknya kerap kelaparan , meski kini mereka telah terbebas dari cengkeraman Boko Haram.

Amina Ali Pulka, 30, memutuskan untuk menjadi kekasih seorang pekerja dapur di kamp pengungsi Bakassi, kamp di wilayah timur laut Nigeria yang diperuntukan bagi warga yang melarikan diri dari kekejaman Boko Haram.

"Saya melakukannya karena tidak ada orang yang memberi saya makan atau memberi saya pakaian," ungkap Pulka seperti dikutip dari Reuters, Selasa (27/9).


Pulka memaparkan bahwa pria yang terpaksa ia kencani itu juga merupakan korban yang mengalami aksi kekerasan oleh Boko Haram. Pria tersebut memberikannya uang, yang kemudian digunakan Pulka untuk membeli sabun mandi dan keperluan lainnya.

Pulka merupakan salah satu dari banyak wanita yang tinggal dalam kamp untuk Warga yang Terusir di Dalam Negeri (IDP) di timur laut Nigeria. Lembaga amal International Medical Corps (IMC) dan badan penelitian Nigeria, NOI Polls melaporkan bahwa Pulka bukan satu-satunya wanita yang menjajakan hubungan seksual hanya untuk mendapatkan makanan, sabun dan uang tunai.

Berbagai lembaga bantuan juga melaporkan bahwa kelaparan dan malnutrisi mengancam kamp pengungsi di negara bagian Borno akibat tipisnya pasokan makanan.

"Seringkali, makanan yang ada tidak cukup, sehingga para wanita melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan makanan dan uang," kata Hassana Pindar dari IMC, yang mendirikan pusat bantuan untuk para wanita di sejumlah kamp pengungsian.

Aksi kekerasan Boko Haram menyebabkan sekitar 65 ribu warga di wilayah timur laut Nigeria hidup dalam kelaparan. Sementara, sekitar satu juta warga lainnya berisiko kelaparan serta lebih dari seluruh anak berusia di bawah lima tahun menderita malnutrisi di sejumlah wilayah di Borno.

Aksi kekerasan Boko Haram menyebabkan sekitar 65 ribu warga di wilayah timur laut Nigeria hidup dalam kelaparan. (Reuters/Afolabi Sotunde)
Pemberontakan kelompok militan yang telah berlangsung selama tujuh tahun itu juga telah menewaskan 15 ribu orang dan membuat lebih dari 2 juta warga Nigeria melarikan diri.

Boko Haram sudah berhasil dipukul mundur di sebagian besar wilayah timur laut Nigeria, namun kelompok ini terus meluncurkan serangan bom bunuh diri dan penyerbuan ke sejumlah desa, bahkan hingga ke wilayah perbatasan di negara tetangga, seperti Kamerun, Niger dan Chad.

Menurut riset NOI Polls, hampir 90 persen warga yang melarikan diri dari Boko Haram di timur laut Nigeria tidak memiliki cukup makanan. Banyak wanita yang juga mengaku terpaksa berhubungan seksual untuk mendapatkan makanan di sejumlah kamp IDP.

Riset itu juga menunjukkan bahwa aksi kekerasan seksual marak terjadi. Dalam dua dari tiga kasus kekerasan seksual, para korban mengungkapkan aksi itu dilakukan oleh para pekerja kamp.

Ratusan warga yang terpaksa tinggal di pengungsian bulan lalu meluncurkan protes di Maiduguri dan menuduh pekerja pemerintah mencuri bantuan makanan. Terkait hal ini, Presiden Nigeria Muhammadu Buhari memerintahkan polisi untuk segera menangkap para pelaku.

Sukarelawan IMC, Fatima Alhaji, mengungkapkan bahwa selain para ibu, sejumlah remaja wanita juga terpaksa tidur dengan pria hidung belang untuk mendapatkan makanan.

"Beberapa bahkan mengemis di jalanan, ada juga keluar dari kamp pengungsian untuk mencari kerja serabutan, sementara sejumlah lainnya menggunakan tubuh mereka untuk mendapatkan makanan dan uang. Semua orang membicarakan hal ini," ujar Alhaji.

Pulka saat ini tengah hamil lima bulan dan ditinggalkan oleh kekasihnya sang pekerja dapur. Ia juga telah berpisah sejak tiga tahun lalu dengan suaminya yang kini tinggal di ibu kota Abuja bersama istri lainnya.

Pulka menyatakan sang suami tak pernah mengunjunginya di kamp pengungsian, atau mengirimkannya uang. Suaminya juga menolak membiayai kelima anak mereka.

Putri sulung Pulka, 15, bingung atas kehamilan ibunya. "Dia bertanya, mengapa saya hamil sementara ayahnya tinggal jauh selama tiga tahun terakhir, sejumlah orang di kamp juga menanyakan hal yang sama," ujar Pulka.

"Saya hanya melakukan ini demi anak-anak saya," pungkasnya. (ama/stu)