Dalam kunjungannya ke Beijing pekan lalu, Duterte mengumumkan "perpisahan" dengan AS dalam sektor ekonomi dan militer. Duterte mengaku kecewa lantaran AS mengkritik caranya memerangi praktik narkoba di negaranya. Langkah Duterte itu juga dinilai sebagai upaya Filipina merapat ke pemerintah China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kirby mengungkapkan bahwa "Washington melihat tidak ada tindakan praktis yang dilakukan Manila untuk menjauh dari persekutuan [dengan AS]."
"Bahasan diskusi yang mereka lakukan menjamin bahwa Filipina berkomitmen untuk tetap menjaga hubungan. Hal ini membuat Menlu yakin bahwa kedua negara akan mampu melewati masa sulit," ujar Kirby, dikutip dari Reuters.
Di hari yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik, Daniel Russel, bahkan menyatakan bahwa Amerika mendukung penuh negosiasi dan pendekatan hubungan antara Filipina dengan China.
Russel menyatakan bahwa kedekatan Filipina-China bukan berarti memadamkan aliansi AS-Filipina yang telah terbentuk sejak 1951 silam.
"Sebuah kesalahan ketika menganggap peningkatan hubungan antara Manila dan Beijing berarti mengorbankan hubungan Manila dengan Washington. Kami tidak ingin membuat negara harus memilih antara (berhubungan) dengan China atau AS," ujar Russel dalam kunjungannya ke Filipina.
Walaupun AS masih menganggap Filipina sebagai sekutu terpercaya, Russel menyatakan kekhawatirannya akan kebijakan 'brutal' Duterte dalam memberantas narkoba. Pasalnya, sejak Duterte menjabat sebagai presiden pada akhir Juni lalu, setidaknya 3.000 terduga pengedar dan pecandu narkoba tewas tanpa menjalani pengadilan.
Sementara itu, Yasay berupaya menjelaskan pernyataan "perpisahan" Duterte dengan menegaskan bahwa AS tetap menjadi "teman terdekat" Filipina.
Menurut Yasay, pernyataan Duterte hanya mencerminkan keinginan Filipina untuk melepaskan pola pikir dan sikap ketergantungan Filipina pada AS dengan menjalin hubungan yang lebih erat dengan negara lainnya di kawasan. (ama)