Huda, bukan nama sebenarnya, mengungkapkan kepada AFP bahwa pembalut dan air bersih merupakan hal yang mewah di lingkungan tempat tinggalnya di Saqba, Ghouta Timur, kota yang dikuasai kelompok pemberontak. Kota yang hanya berjarak 11 km dari ibu kota Damaskus ini berada dalam kepungan tentara pemerintah sejak 2013 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Satu pembalut saya pakai untuk waktu yang lama," kata wanita berusia 23 tahun ini.
Akibatnya, ia terkena infeksi jamur di saluran vagina dan saluran kencing, dan menderita sakit di ginjalnya.
"Saya mencoba mendapatkan perawatan, namun semuanya berjalan lambat, karena mahalnya pengobatan," tuturnya.
Lebih dari 860 ribu warga Suriah tinggal dalam pengepungan tentara. Pemerintah menutup akses warga untuk mendapatkan air bersih dan bantuan. Makanan dan sejumlah kebutuhan dasar lainnya sulit didapatkan, apalagi pembalut.
Padahal, sanitasi yang buruk dapat mengakibatkan penyakit kelamin yang serius. Kondisi hidup terasa lebih berat bagi para wanita, karena membicarakan hal ini dianggap tabu di kalangan masyarakat Suriah. Karena alasan ini pula Huda memilih menggunakan nama samaran.
Semuanya sulit
Kelompok bantuan menyatakan pembalut merupakan bagian dari paket bantuan kesehatan yang mereka kirimkan ke daerah-daerah yang terkepung. Namun, akses pengiriman bantuan dibatasi pemerintah, dan apa yang mereka kirimkan terkadang tidak mencukupi kebutuhan warga di suatu daerah.
UNICEF telah mengirimkan 84 ribu paket sanitasi ke daerah yang terkepung di Suriah sepanjang 2016. Namun, hanya terdapat 10 paket pembalut dalam ribuan paket itu.
Jika sepertiga dari 860 ribu yang hidup dalam pengepungan adalah wanita yang sedang haid, maka akan dibutuhkan lebih dari 10 juta pembalut sepanjang tahun.
Sejumlah kelompok penyalur bantuan mengaku mereka belum memiliki informasi soal berapa banyak warga yang menderita penyakit akibat kurangnya produk kewanitaan.
"Karena masalah ini sangat sensitif, tim penilaian kesehatan belum mengumpulkan informasi tentang potensi medis atas masalah ini," kata Ingy Sedky dari Komite Internasional Palang Merah. (ama/den)