Menipisnya selisih dukungan kedua capres seiring dengan keputusan Biro Investigasi Federal (FBI) untuk membuka kembali penyelidikan terkait dengan skandal jaringan email pribadi yang digunakan Clinton untuk berkirim email saat ia masih menjabat sebagai menteri luar negeri pada 2009-2013 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei ABC News/Washington Post memaparkan 6 dari 10 pemilih mengatakan, pemberitaan terbaru mengenai penyelidikan FBI terkait skandal bocoran email Clinton beberapa waktu lalu tak mempengaruhi pilihan mereka.
Sementara 3 di antara 10 responden pemilih menyatakan pemberitaan itu cenderung membuat mereka berfikir lagi untuk memilih Clinton dalam pemilu 8 November mendatang.
Hasil yang berbeda ditemukan pada jajak pendapat yang dilakukan New York Times Upshot/Siena di Florida yang menunjukan Trump memimpin hasil survei dengan 46 persen suara, sementara Clinton mendapatkan 42 persen suara. Survei yang sama pernah dilakukan pada September lalu, ketika Clinton dan Trump imbang dengan 43 persen suara.
Lebih lanjut, survei pemilu nasional lainnya menunjukan Clinton masih mengungguli Trump. Dalam survei CNN, Clinton mendulang 47 persen suara, sementara Trump 42 persen. Survei yang dilakukan CNN ini diambil dari hasil rata-rata lima survei nasional terbaru.
Di Carolina Utara, survei NBC/Wall Street Journal/Universitas Marist menunjukan Clinton berada diatas Trump dengan suara 47 persen berbanding 41 persen.
Sedangkan di negara bagian Florida, survei yang sama menunjukan selisih suara Clinton dan Trump beda tipis yakni 45 persen berbanding 44 persen. Penurunan satu poin bagi Clinton sejak jajak pendapat yang sama pada awal Oktober. (ama)