Laporan dari Amerika

New York Terapkan Strategi Baru Anti-Islamofobia Usai Trump

Denny Armandhanu, CNN Indonesia | Senin, 14/11/2016 06:32 WIB
Pemerintah New York akan menerapkan strategi baru dalam mengatasi Islamofobia di kota tersebut, terutama setelah Donald Trump memenangkan pemilu. Pemerintah New York akan menerapkan strategi baru dalam mengatasi Islamofobia di kota tersebut, terutama setelah Donald Trump memenangkan pemilu. (CNN Indonesia/Denny Armandhanu)
New York City, CNN Indonesia -- Pemerintah New York akan menerapkan strategi baru dalam mengatasi Islamofobia di kota tersebut, terutama setelah Donald Trump memenangkan pemilu Amerika Serikat. Langkah baru ini perlu seiring meningkatnya kasus Islamofobia di New York, dan kali ini ancaman datang dari para pendukung Trump.

Ketua Komisi Hak Asasi Manusia New York, Carmelyn P. Malalis, mengatakan mereka akan segera meluncurkan lokakarya bertajuk "Memahami Islam" yang diikuti oleh para pegawai pemerintahan dan swasta di kota itu. Lokakarya ini diharapkan mampu mematahkan berbagai mitos tidak benar tentang Islam.

"Selain itu, Komisi berencana melakukan kampanye di media seluruh kota pada 2017 untuk memberi pendidikan bagi warga New York soal cara melawan xenofobia dan menghormati keragaman budaya dan etnis," kata Malalis kepada CNN Indonesia.com pekan ini.


Warga Muslim di New York berjumlah antara 400-800 ribu orang, datang dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurut data pemerintah New York, dalam dua tahun terakhir ada peningkatan perlakuan diskriminasi berdasarkan ras, negara dan agama hingga 63 persen dibanding tahun 2014.

Islamofobia meningkat drastis di New York sejak serangan teroris 9/11 yang meruntuhkan dua gedung WTC di kota itu dan menewaskan ribuan orang. Malalis mengatakan, walau mayoritas masyarakat New York toleran, namun diskriminasi banyak dialami oleh warga Muslim kota.

Di antara bentuk diskriminasi terhadap Muslim adalah perlakuan buruk dan perbedaan status di tempat kerja, penolakan sewa apartemen, pelarangan memasang atribut keagamaan di pintu apartemen, tuan tanah menolak memperbaiki apartemen milik warga Muslim, hingga penolakan masuk warga Muslim di sebagian restoran dan tempat usaha lainnya.

Mengatasi hal ini, pemerintah kota New York telah mencanangkan kampanye "I Am Muslim NYC" di sosial media. Sejauh ini kampanye tersebut mendapatkan dukungan positif dari masyarakat New York.

"Kampanye ini menunjukkan bahwa Muslim juga warga Amerika pekerja keras seperti mereka semua. Muslim bekerja sebagai polisi, guru, pemilik usaha kecil dan tetangga, mereka layak mendapatkan penghormatan yang sama seperti orang lain," kata Malalis.

Kampanye ini menjadi sangat penting di tengah ketegangan politik pada pemilu. Donald Trump dengan retorika anti-Islamnya dan anti-imigrannya dikhawatirkan memicu semakin banyak kasus Islamofobia di New York.

Menyusul kemenangan Trump, para pendukungnya mulai membuat ulah. Di New York University, pintu mushola tempat mahasiswa Muslim shalat ditulisi kata "Trump!". Sementara di Universitas Negeri San Jose, seorang mahasiswi Muslim ditarik jilbabnya oleh seorang pria kulit putih, membuat wanita ini tercekik dan hampir jatuh. Banyak lagi kasus yang tercatat usai kemenangan Trump.

"Sekarang dibanding sebelumnya, para pemimpin di mana pun harus tegas melawan kebencian dan kekerasan terhadap Muslim dan komunitas imigran. Kota New York meningkatkan upaya untuk melindungi hak-hak warga untuk menunjukkan agama mereka dengan aman dan hidup bebas dari diskriminasi," tegas Malalis. (stu)