Kelompok Bersenjata Irak Culik Wartawan Perempuan

Riva Dessthania Suastha, CNN Indonesia | Rabu, 28/12/2016 15:28 WIB
Kelompok Bersenjata Irak Culik Wartawan Perempuan Sekelompok pria bersenjata menculik wartawan perempuan setelah beredar artikel yang mengecam kelompok bersenjata di negara itu. (Thinkstock/cyano66)
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas keamanan melaporkan peristiwa penculikan wartawan perempuan oleh sekelompok pria bersenjata di Irak. Para penculik menyamar sebagai pasukan keamanan sebelum membawa korban dari rumahnya.

Kepala Observatorium Kebebasan Jurnalistik Ziad al-Ajili mengatakan, Afrah Shawqi, 43, diculik pada awal pekan ini pada sekitar 22.00 waktu setempat. Saat itu Shawqi tengah berada di sekitar kompleks rumahnya yang terletak di selatan Kota Baghdad.

"Delapan orang bersenjata menyerbu masuk ke rumahnya di Saidiya berpura-pura menjadi pasukan keamanan dengan mengenakan pakaian polos," ucap Shawqi kepada AFP, Selasa (27/12).


Ziad menuturkan, para penculik juga mengikat anak laki-laki Shawqi dan mencuri telepon genggam, sejumlah uang tunai, serta perangkat komputer sebelum melarikan diri.

Shawqi merupakan wartawan surat kabar Asharq al-Awsat, sebuah kantor berita yang berbasis di London yang juga menaungi sejumlah situs berita seperti Aklaam.

Pada awal pekan ini, Shawqi menerbitkan sebuah artikel berisikan kecaman bagi sejumlah kelompok bersenjata yang "memiliki impunitas" di Irak.

Insiden ini telah dikonfirmasi seorang sumber dari Kementerian Dalam Negeri Irak. Perdana Menteri Irak Haider al-Abadi mengutuk penculikan ini dan telah memerintahkan pasukan keamanan menyelidiki dan melacak keberadaan Shawqi.

Kelompok pegiat Kebebasan Media, Reporters Without Borders (RSF), turut menyuarakan keprihatinan atas penculikan ini. Kelompok ini juga mendorong Abadi segera melakukan langkah yang diperlukan untuk menemukan Shawqi sesegera mungkin.

"Kami sangat prihatin dan secara tegas mengutuk penculikan ini," kata kepala redaksi RSF Virginie Dangles melalui sebuah pernyataan.

"Kami mendesak Perdana Menteri Abadi menepati janjinya untuk menemukan Shawqi. Pemeritnah Irak juga memiliki tugas meingkatkan keamanan bagi wartawan di negara itu," ujarnya.

Irak memang dianggap sebagai salah satu negara yang paling berbahaya bagi wartawan. Selain Irak, Suriah dan Afghanistan juga menjadi wilayah yang dihindari oleh para awak media.

Sekitar tujuh wartawan tewas di Irak pada 2016. Menurut RSF, Irak menduduki peringkat 158 dari 180 negara dalam indeks kebebasan media. (aal)