"Kami mungkin akan mendorong terbentuknya suatu kerangka waktu yang lebih konkret dalam mencapai two state solution," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (12/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam konferensi perdamaian ini, perwakilan entitas dan negara yang hadir akan berupaya memberikan insentif untuk membantu Israel dan Palestina mencapai perdamaian.
Salah satu bentuk insentif tersebut, tutur Arrmanatha, mencakup pembangunan kapasitas, khususnya bagi Palestina, dalam mempersiapkan kemerdekaan dan memperkuat kepercayaan diri dalam bernegosiasi.
Indonesia juga akan terus mendorong penghentian kekerasan dan pendudukan ilegal yang dapat merusak prosea perundingan damai.
Selain Indonesia, puluhan negara lain yang sudah mengonfirmasi kehadiran, mulai dari kawasan Timur Tengah hingga Eropa. Di antaranya adalah Spanyol yang berperan dalam perdamaian Israel-Palestina melalui Konferensi 1991. Ada pula Norwegia yang pernah berperan dalam Kesepakatan Oslo.
Meskipun begitu, baik dari pihak Israel maupun Palestina belum ada yang mengonfirmasi kehadiran perwakilan mereka dalam konferensi selama dua hari tersebut.
Perancis menginisiasi pertemuan ini pasca berakhirnya proses perundingan damai antara Palestina dan Israel pada 2014 lalu. Proses yang ditengahi oleh kuartet Dewan Keamanan PBB ini berakhir tanpa hasil berarti.