Alexandre Bissonette, 27, didakwa dengan enam tuduhan pembunuhan berencana dan lima percobaan pembunuhan menggunakan senjata terlarang terkait serangan yang terjadi di Pusat Kebudayaan Islam Quebec.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi menolak membahas soal motif penembakan, tapi teman-teman pelaku mengatakan dirinya sempat mengekspresikan sentimen anti-imigran, terutama terhadap pengungsi Muslim.
Baik penegak hukum maupun intelijen di Amerika Serikat meyakini dia adalah simpatisan ideologi sayap kanan dan hal ini mungkin berkontribusi pada motif serangan, kata sejumlah pejabat.
Pada Selasa, juru bicara perdana menteri, Kate Purchaes, meminta Fox News untuk menarik atau memperbarui pemberitaan di Twitter yang melaporkan pelaku adalah warga Maroko. Dia mengatakan kicauan itu tidak menghargai korban.
Fox kemudian menghapus twit tersbut.
Kepolisian menyatakan dia beraksi sendiri tapi tidak mengungkap secara spesifik jenis senjata yang digunakan. Stasiun radion RDI, mengutip sejumlah sumber, mengatakan pelaku menggunakan pistol kaliber 9mm dan senjata laras panjang.
Penembakan yang disebut Perdana Menteri Justin Trudeau sebagai aksi teror ini mengundang dukungan luar biasa untuk masjid dan satu juta warga Muslim di Kanada.
Otoritas Quebec telah menyerukan semangat inkulsivitas dan polisi telah meningkatkan pengamanan semua institusi keagamaan di provinsi dengan tingkat kejahatan bermotif agama kedua tertinggi di Kanada ini.
Data Kepolisian yang diperoleh Statistics Canada menunjukkan kejahatan praduga terhadap Muslim di Kanada melonjak lebih dari dua kali llipat antara 2012 dan 2014.
Bissonette, yang melalui akun Facebook-nya menyatakan diri sebagai penggemar Presiden Donald Trump dan politikus ekstrem kanan Marine Le Pen.
(aal)