"Kami akan memfasilitasi permintaan dari pemerintah asing [Korut], tapi masih ada prosedur yang harus dijalankan. Kebijakan kami adalah kami harus menghormati hubungan bilateral dengan semua negara asing," ujar Ahmad, sebagaimana dikutip AFP, Kamis (16/2).
Sebelumnya, beberapa pejabat Korut memang sempat meminta jasad Kim Jong Nam untuk segera dipulangkan. Sejumlah pejabat lain bahkan sempat berupaya menghalangi proses autopsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kim Jong Nam dilaporkan tewas setelah wajahnya dibekap dari belakang oleh dua perempuan di bandara Kuala Lumpur saat sedang menunggu penerbangan menuju Macau.
Tak lama setelah dibekap, Kim Jong Nam meminta bantuan ke bagian informasi dan mengatakan bahwa ia merasa sangat pusing. Keadaannya terus memburuk hingga dilarikan ke rumah sakit dan meninggal dunia dalam perjalanan.
Kedua perempuan yang membekap wajah Nam dilaporkan kabur menggunakan taksi saat kakak tiri Kim Jong Un itu terpantau sudah dilarikan ke rumah sakit.
Pada Rabu (15/2), kepolisian Malaysia membekuk satu perempuan yang menggunakan paspor Vietnam terkait kasus dugaan pembunuhan ini. Sehari kemudian, polisi menangkap satu perempuan pemegang paspor Indonesia.
Jika dikonfirmasi sebagai kasus pembunuhan, inisden ini disebut-sebut akan menjadi kematian sosok paling besar di bawah pemerintahan Kim Jong Un. Sejumlah analis memprediksi, pemerintah Korut memang memerintahkan pembunuhan Nam karena kakak tiri Kim Jong Un itu diduga akan membelot.
Sejak dulu, Nam dikenal sebagai orang yang kerap membicarakan keburukan rezim di Korut. Ia juga sering membocorkan kesengsaraan yang sebenarnya melanda negara terisolasi tersebut.
Nam merupakan anak tertua dari mantan pemimpin tertinggi Korut, mendiang Kim Jong Il. Sebagai anak pertama, Nam sebenarnya sudah dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya.
Namun pada 2001, Nam tersandung masalah yang dianggap mempermalukan negaranya. Saat itu, ia tertangkap saat sedang berupaya masuk ke Jepang menggunakan paspor palsu.
Sejak saat itu, Nam mengasingkan diri. Nam sering menghabiskan waktunya untuk berjudi di Macau, di mana ia diduga mendapatkan perlindungan dari China.
Dikenal sebagai advokat yang memperjuangkan reformasi di Korut dan memiliki hubungan dengan elite Beijing, Nam pernah berkata kepada wartawan Jepang bahwa ia menentang sistem dinasti di negaranya.