Setelah tujuh bulan, Presiden Rodrigo Duterte akhirnya memerintahkan polisi untuk berhenti menggeluti operasi anti-narkotik akhir Januari lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Papa mengatakan pembunuh yang tidak diketahui identitasnya kini membunuh sembilan, sepuluh orang per hari. Angka ini memang lebih rendah jika dibandingkan dengan saat polisi masih memimpin operasi.
Dalam insiden penembakan yang diliput oleh fotografer AFP, polisi menemukan empat orang tewas di sebuah gubuk yang berada di Manila Utara, kemarin. Suasana tempat tersebut hampir sama dengan kejadian sebelumnya ketika pembunuhan masih merajalela.
Sejumlah saksi mengatakan pelaku yang tidak dikenal menerobos masuk ke dalam rumah dan mulai menembak, sementara tiga orang lainnya turut menjadi korban di lokasi lain.
Duterte memerintahkan semua polisi berhenti melaksanakan operasi setelah seorang petugas korup menculik dan membunuh pengusaha Korea Selatan di markas besar kepolisian. Tindakan ini dilakukan dengan alasan pemerasan.
Namun, Duterte berjanji perang narkotik akan terus berlanjut. Dia bersumpah, akan lebih banyak lagi pecandu dan penyelundup narkotik yang tewas di bawah peperangan ini.