“Dengan menghormati kicauan presiden mengenai penyadapan terhadap dirinya oleh pemerintahan sebelumnya, saya tak memiliki informasi yang mendukung kicauan tersebut,” ujar Comey dalam sesi dengar pendapat dengan Komite Intelijen Dewan Perwakilan AS, sebagaimana dikutip Reuters, Senin (20/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tudingan ini diutarakan hanya berselang dua hari setelah Jaksa Agung AS, Jeff Sessions, menampik tudingan yang menyebut dirinya dua kali bertemu dengan Duta Besar Rusia, Sergey Kislyak, untuk membahas soal kampanye Trump menuju kursi presiden, tahun lalu.
Dalam sesi dengar pendapat ini, Comey mengakui bahwa FBI memang sedang menyelidiki dugaan kontak antara tim kampanye Trump dan Rusia. Namun, ia enggan menjabarkan lebih lanjut mengenai perkembangan investigasi ini karena proses penyelidikan masih berjalan.
Meskipun masih dalam penyelidikan, komunitas intelijen AS sudah menyampaikan kesimpulan bahwa Rusia memang berupaya membantu Trump agar menang dalam pemilu dengan meretas surat elektronik Partai Demokrat. Comey mengatakan, kesimpulan ini sangat logis mengingat Rusia selama ini menentang rival Trump dalam pemilu, Hillary Clinton.
“Saya rasa, komunitas intelijen sangat mudah menilai itu. (Vladimir) Putin (Presiden Rusia), sangat membenci Clinton sehingga dengan sangat mudah mendukung orang yang berupaya melawan orang yang sangat dia benci,” kata Comey.