Total, lima orang tewas termasuk pelaku yang ditembak polisi, sementara 40 orang lainnya terluka.
Pengamat mengatakan bahwa serangan ini sekali lagi membuktikan bahwa aksi teror tak memerlukan senjata atau tekonologi canggih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Video CNN]
Sementara itu, ada lebih dari 20 insiden teror besar dengan menggunakan mobil di seluruh dunia sejak 1995. Yang terburuk terjadi di Nice, Perancis tahun lalu. Saat itu, setidaknya 84 orang termasuk 10 anak-anak tewas ketika sebuah truk menabrakkan diri ke keramaian orang yang sedang merayakan hari nasional Perancis yang biasa disebut Bastille Day. Pengamat langsung memperingatkan bahwa teror dengan modus serupa bisa jadi akan diikuti oleh jaringan teror lain tak hanya di Perancis, namun di seluruh dunia.
Sebelumnya pada Desember 2014, seorang pria di Dijon, Perancis, menabrak 11 orang, dua di antaranya terluka parah. Sehari kemudian, insiden serupa kembali terjadi di Nantes, saat seorang pria menabrak 10 orang pejalan kaki, menewaskan satu orang. Enam bulan setelahnya, pada Juni 2015, seorang pria di Lyon menerobos gerbang dan menabrakkan truk ke pabrik gas.
“Ketika senjata-senjata kimia, dengan perangkat elektronik canggih dicurigai dan dipersulit, maka mereka [kelompok teror] kesulitan sumber daya untuk perang. Jadi mereka mengubahnya. Pisau dan mobil, selain gampang, ini tidak terduga dan tidak terpantau,” ujar Chaidar.
Lebih jauh, serangan dengan senjata seadanya ini, menurut pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail, juga sudah terjadi di Indonesia.
"Saya shock, tapi tidak kaget. Ini kan sudah terjadi di Paris, Brussels, Berlin, dan Inggris. Di Indonesia, itu juga sudah terjadi, seperti insiden bom panci di Bandung," kata Huda. "Fatwa dari juru bicara ISIS Abu Muhammad al-Adnani sebelum dia tewas, spesifik. Gunakan pisau, batu, apa saja untuk menyerang orang yang menentang khilafah."
Adnani tewas di Suriah pada Agustus 2016, namun sebelumnya ia gencar meyerukan pengikut ISIS untuk melakukan serangan sendiri (lone wolf).
Sementara itu, Huda mengingatkan lebih dari 460 warga Indonesia yang ingin ke Suriah via Turki sudah dideportasi, namun tak ada tindak lanjut dari pemerintah. Padahal menurut dia, Indonesia semestinya punya program sistematis untuk mencegah serangan serupa terjadi di tanah air.
"Mereka yang dideportasi setelah pulang diinterogasi, diserahkan ke Kementerian Sosial, lalu kemudian dipulangkan. Padahal banyak dari mereka sebelum berangkat sudah menjual rumah. Lalu mereka mau apa?" ujarnya. "Ini [serangan di London] menjadi refleksi bagi Indonesia. Yang paling penting, bagaimana menyetopnya?"