Noor Huda Ismail
Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian dan kandidat PhD Politik dan Hubungan Internasional Monash University, Melbourne.

Teror London dan Multi-Level Marketing 'Jihad' di Indonesia

Noor Huda Ismail, CNN Indonesia | Kamis, 23/03/2017 16:26 WIB
Teror London mestinya memberi peringatan bagi Indonesia, bahwa kelompok teroris tak lagi bergerak dengan logika kuno dan modus seperti sebelumnya. Sebanyak lima orang tewas dalam serangan di London pada Rabu (23/3), termasuk seorang polisi dan pelaku serangan. Sementara 40 lainnya terluka. (Reuters/Darren Staples)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski belum ada bukti kuat atas motif teror di London yang menewaskan lima orang termasuk pelaku, aparat kepolisian London berkesimpulan bahwa aksi tersebut terinspirasi dari jaringan terorisme international seperti ISIS atau jaringan teror lain.
Kenapa logika seperti ini terbangun? Dan apa dampaknya aksi tersebut bagi keamanan di Indonesia?

Pertama, ancaman teror di London terus meningkat terutama sejak munculnya ISIS pada 2014. Tidak kurang dari 800-an warga Inggris telah menyebrang dan bergabung dengan gerakan yang menawarkan tata kelola politik baru dunia, sistem khilafah Islam. Diduga, jaringan pendudung ISIS di London masih menjalin hubungan dengan rekan mereka yang bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Kedua, tidak ada serangan teror yang berhasil di London sejak Mei 2013. Korban terakhir sebelum kejadian ini adalah terbunuhnya seorang tentara bernama Lee Rigby di London Selatan. Pada saat yang sama, negara-negara lain di Eropa seperti Perancis, Belgia, Jerman telah digunjang berkali-kali oleh teror.
Ketiga, sekarang aksi teror dilakukan dengan alat yang sangat sederhana: mobil dan pisau dapur. Aksi pun dilakukan secara mandiri. Jika kita melihat pola geraknya, dapat dibaca sebagai implementasi dari apa yang telah disampaikan oleh juru bicara ISIS sebelum meninggal dunia, Al Adnani. Ia berpesan kepada para pendukung ISIS di luar negeri untuk bisa melakukan aksi teror meskipun hanya memakai batu atau pisau dapur.


Dengan aksi yang super sederhana tapi di lokasi yang sangat strategis, serangan ini menciptakan dampak ketakukan yang tidak saja di kota London tapi juga mendunia.
Kita tentu sangat prihatin dengan keluarga korban, namun pada saat yang sama kehebohan berita ini juga mengusik rasa keadilan dan kemanusiaan.

Mengapa? Karena ada ratusan bahkan ribuan orang meninggal dunia di wilayah konflik di dunia ketiga. Seperti yang terjadi di Palestina, Siria, Irak, Burma, India dan lain-lain. Tapi dunia seolah bisu. Apakah ini berarti nyawa orang Barat lebih berharga dari yang lainnya?

[Gambas:Video CNN]

Dalam buku "The Geopolitics of Emotions" (2010), penulis Perancis, Dominque Moisi mengingatkan bahwa era globalisasi justru memunculkan rasa waswas yang berlebihan di dunia Barat dan rasa terhinakan di negara-negara Islam di wilayah Timur Tengah.

Dalam skenario ala Moisi ini, maka politik identitas menjadi semakin menguat. Sehingga rasa saling curiga ini terejawantahkan dalam bentuk aksi teror dari kedua belah pihak dalam skala dan teknik yang berbeda. Bagi yang lemah, maka pisau dapur pun bisa menjadi senjata.

Oleh karena itu, kita tidak bisa mengurai sebuah aksi terorisme di manapun saja tanpa kita memahami konteks dan proses sejarah dari pertarungan identitas diri sang pelaku teror. Apa yang kita saksikan sebagai “teror” itu adalah puncak dari gunung es sebuah fenemona sosial yang sangat kompleks.

Pelajaran paling penting bagi kita di Indonesia adalah: pola serangan sederhana ini sudah terjadi sejak munculnya fatwa dari Al Andani tersebut.
Sejak Agustus 2016 hingga Maret 2017, tidak kurang dari 160-an pendukung ISIS yang ingin melakukan aksi teror di Indonesia dengan alat yang sangat sederhana mulai dari pisau hingga bom panci.

Menilik latar belakang mereka, mayoritas dari mereka ini adalah orang baru namun mendapatkan polesan dari jaringan lama. Artinya, jaringan yang sudah ada ini menjadi inkubator yang efektif atas munculnya jaringan baru yang seringkali mereka hanya kenal setelah mereka tertangkap polisi.
Mereka bergerak dalam nalar MLM, Multi Level Marketing “Jihad” yaitu jaringan lama terus aktif mencari downline-downline (bawahan) baru secara bertahap. Meskipun makna jihad itu luas, namun para pendukung ISIS ini selalu ngotot bahwa aksi mereka di Indonesia adalah bagian dari jihad mereka.

Ironisnya, mereka biasanya belajar konsep jihad ini secara serampangan di media sosial seperti Facebook atau hanya menerima kiriman artikel di HP mereka melalui WhatsApp. Kita bisa bayangkan seberapa dalam pengetahuan mereka tentang Islam bukan?

Jika negara dengan kemampuan intelijen yang dianggap paling top sekaliber Inggris saja bisa “kecolongan” dengan aksi teror, maka hal itu seharusnya semakin mengingatkan kita bahwa aksi terorisme dewasa ini tidak lagi bergerak dalam logika kuno. Yaitu melakukan aksi dengan serangan yang spektakuler seperti bom atau serangan senjata api yang beruntun dan berkelompok.

Kita tidak perlu takut dan panik secara berlebihan akan kemungkinan munculnya teror-teror dengan cara nekad dan dengan alat yang sederhana ini. Namun, ancaman terorisme ini harus tetap menjadi keprihatinan bersama. Isu terorisme bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan. Kita bisa memulai membangun kewaspadaan bahaya radikalisme dari lingkungan yang paling dekat yaitu dimulai dari kerabat, anak-anak dan teman-teman kita sendiri. Karena suka atau tidak, jaringan aksi terorisme di Indonesia hari ini belumlah seratus persen tercerabut dari akarnya. (stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS