Kementerian Perikanan Jepang menuturkan setidaknya lima kapal ikan melakukan perburuan di Samudera Selatan Antartika sejak akhir tahun 2016, dengan tujuan membantai ratusan mamalia terbesar di dunia ini dalam rangka "penelitian."
"Misi perburuan paus ini dilakukan untuk penelitian mempelajari ekologi di Laut Antartika," bunyi pernyataan lembaga tersebut seperti dikutip AFP, Jumat (31/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Daging paus menjadi salah satu makanan yang dikonsumsi warga Jepang. Daging mamalia itu menjadi sumber protein tinggi masyarakat sejak pasca-Perang Dunia II dan tak jarang tersaji di sejumlah restoran bahkan menjadi makan siang anak-anak sekolah.
Sebenarnya, konsumsi daging paus telah menurun drastis dalam beberapa dekade terakhir. Tokyo juga telah menandatangani moratorium perburuan paus sejak 1986 di bawah International Whaling Commission (IWC).
Namun, sempat terhenti selama setahun atas permintaan Mahkamah Peradilan Internasional (ICJ), para nelayan kembali menangkap paus dalam perburuan tahunan ini, 2016 lalu.
ICJ tak percaya perburuan ini semata dilakukan untuk kebutuhan ilmu pengetahuan, menganggap alasan itu hanya tameng bagi para pemburu yang sebenarnya mengincar daging paus untuk tujuan komersial.
Selain ICJ, Australia dan Selandia Baru juga merupakan salah satu negara yang turut menentang perburuan paus ini.
"Setiap tahun, Jepang tetap meluncurkan perburuan ikan paus dengan menggunakan alasan penelitian ilmiah supaya bisa mengorbankan keberadaan hewan-hewan indah tersebut. Ini adalah kekejaman yang bertopeng imlu pengetahuan dan harus diakhiri," tutur wakil presiden lembaga perlindungan hewan, International Society International, Kitty Block.