Donovan mengatakan, serangan Amerika pada Jumat pekan lalu itu telah mendapat persetujuan komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Tindakan kami ke Suriah telah mendapat justifikasi dari PBB dan sesuai hukum internasional. Lagipula, serangan kami hanya diarahkan kepada situs militer Suriah,” ucap Donovan di Tangerang, Selasa (11/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara Barat menyalahkan Assad atas serangan ini dan menganggap dia sebagai penjahat perang. Menanggapi insiden ini, Washington akhirnya meluncurkan puluhan rudal Tomahawk ke salah satu situs angkatan udara Suriah.
Serangan dini hari itu menewaskan enam tentara Suriah, merusak landasan pacu, tangki bahan bakar, dan sistem pertahanan udara pangkalan tersebut.
Donovan khawatir, jika Amerika tak menggencarkan serangan rudal ini, Damaskus tidak akan menghentikan penggunaan senjata kimia. Pasalnya, ini bukan kali pertama Assad dituding menggunakan senjata kimia dalam perang sipil berkepanjangan ini.
“Kami harap Indonesia juga mau bergabung bersama komunitas internasional lain untuk mengutuk rezim Assad yang telah melanggar hukum internasional,” ujarnya.
Komentar ini diutarakan Donovan menanggapi pernyataan Indonesia yang menganggap bahwa serangan AS ke Suriah, juga dugaan penggunaan senjata kimia oleh Assad, tak sejalan dengan prinsip internasional.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, mengatakan serangan militer tak akan dapat menyelesaikan konflik dan situasi di Suriah. Menurutnya, stabilitas dan perdamaian Suriah akan bisa tercapai melalui dialog antar negara dan proses politik yang inklusif.
“Kami harap seluruh pihak bisa menahan diri dan mengutamakan perundingan dalam menyelesaikan konflik. Menlu RI Retno LP Marsudi juga terus berkordinasi dengan perwakilan tetap RI di New York, mendesak PBB untuk segera mengambil tindakan tegas menangani masalah Suriah ini,” katanya.