Rencana Harvey untuk melakukan penerbangan perdananya menuju ke Florida, AS, pun pupus karena kakeknya, Paul Kenyon, mencentang kolom "ya" pada pertanyaan mengenai keterlibatan dalam kegiatan teror, sabotase, dan spionase, pada formulir visanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika Anda seorang teroris pun, saya tidak berpikir Anda akan mengakuinya dan mencentang pilihan 'ya' dalam formulir itu, bukan?" katanya.
Akibat kejadian ini, keluarga Harvey mengalami kerugian hingga US$3.750 atau setara Rp49,7 juta karena tidak bisa menggunakan tiket pesawat yang sudah terlanjur dibeli.
"Ini kesalahan yang sangat mahal. Kami harap kedutaan AS akan sadar bahwa ini kesalahan sederhana tanpa harus membuat kami mengalami semua rintangan ini," katanya, sebagaimana dikutip The Guardian.