"Setelah referendum tahun lalu memutuskan negara ini keluar dari Uni Eropa, Inggris memerlukan kepastian, stabilitas, dan kepemimpinan yang kuat. Sejak saya menjabat sebagai perdana menteri, pemerintah Inggris telah mencapai itu semua," kata May di depan kantornya di Downing Street, Westminster, Selasa (18/4), seperti dikutip The Guardian.
Dalam pernyataan persnya yang mengejutkan tersebut, May mengatakan, langkah ini dia ambil di saat perpecahan antar partai dalam parlemen terjadi seputar negosiasi Brexit ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
May juga berharap warga Inggris tetap mendukung dia dan Partai Konservatif yang mengusungnya, mengatakan bahwa "setiap dukungan dari para pemilih untuk Partai Konservatif akan menguatkan saya dalam negosiasi Brexit."
May berencana mencari persetujuan parlemen untuk melangsungkan pemilu awal ini.
Partai Konservatif saat ini memegang kekuasaan yang seimbang di parlemen dengan 330 dari total 650 kursi.
Pemilu awal ini dianggap bisa menarik lebih banyak pendukung bagi Partai Konservatif dan akan memperkuat kekuasaan May menyetir negosiasi Brexit.
Sebab, rencana ini muncul di tengah popularitas partai oposisi pemerintah, Partai Buruh, berada di posisi terendah dalam sejarah.
Lihat juga:Hitung Mundur Brexit Resmi Dimulai |
May berhasil menggantikan Cameron menjadi orang nomor satu di Inggris sejak Juli lalu akibat posisinya yang vokal mendukung Brexit.