Keinginan Skotlandia untuk melaksanakan referendum kedua kalinya ini terus menguat menyusul penandatanganan 'surat cerai' Brexit yang menandakan dimulainya negosiasi selama dua tahun sebelum Inggris resmi keluar dari blok tersebut.
Sturgeon menganggap keputusan May kemarin merupakan salah satu tindakan paling merusak yang pernah dilakukan seorang pemimpin Inggris dalam sejarah modern.
Lihat juga:Hitung Mundur Brexit Resmi Dimulai |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hasilnya adalah kita sekarang harus memastikan warga Skotlandia diberikan pilihan antara negosiasi Brexit yang tengah berjalan atau kemerdekaan," katanya menambahkan.
Sebab, hasil referendum Brexit pada pertengahan 2016 lalu memaparkan, suara mayoritas warga Skotlandia memilih Inggris tetap berada di blok perdagangan bebas Eropa itu, dengan perbandingan 62 persen melawan 38 persen.
Di samping itu, pada Selasa (28/3), gagasan referendum yang diajukan Sturgeon juga telah disetujui parlemen Skotlandia dengan perolehan 10 suara mayoritas.
Sementara itu, dalam kesempatan berbeda, Menteri Inggris untuk urusan Skotlandia, David Mundell, mengatakan Sturgeon memiliki pandangan yang salah menanggapi tawaran Inggris soal pembaharuan kekuasaan bagi Skotlandia.
Meski menurut Mundell masih terlalu dini untuk menjelaskan secara spesifik, dia mengatakan, tawaran kewenangan baru tersebut mencakup sistem peradilan pidana, kebijakan lingkungan, pertanian, dan perikanan.
Sementara itu, Menteri Inggris urusan Brexit, David Davis, juga telah mengirimkan surat kepada Sturgeon. Surat itu berisikan kekecewaan Davis terkait keteguhan Edinburg untuk melakukan referendum sebelum melihat secara menyeluruh tawaran baru Inggris kepada Skotlandia usai Brexit rampung.