Dunia harap-harap cemas menanti uji coba keenam yang dikhawatirkan itu dan dengan setiap uji coba peluru kendalinya, Korea Utara semakin dekat dengan senjata nuklir yang diklaim bisa mencapai daratan Amerika Serikat.
Menurut Jean Lee, dosen kajian Korea Utara, sebenarnya Pyongyang bisa dibilang hampir pasti bakal melakukan uji coba nuklir itu suatu waktu nanti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biasanya, masalah dalam negeri dan geopolitik sangat diperhatikan ketika negara komunis terisolasi ini melakukan uji coba nuklir. Teknologi itu digunakan untuk tujuan teknis maupun politis, menunjukkan kemampuan rezim Kim Jong-un dan mengirim pesan perlawanan untuk musuh-musuh di luar negeri.
Pada 16 April, sehari setelah peringatan hari lahir Kim Il-sung sekaligus hari libur terpenting di Korea Utara, pemerintah pun menguji coba rudalnya, meski berujung gagal. Rudal pertama setelah Presiden AS Donald Trump menjabat juga dilakukan ketika ia bertemu dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Februari lalu.
Sempat ada spekulasi soal kemungkinan uji coba nuklir dilakukan bertepatan dengan hari jadi militer Korut, Selasa (25/4). Namun, dalam acara ini Kim Jong-un justru menggelar latihan menembak artileri terbesar di negaranya yang menggunakan peluru hidup.
Lihat juga:Warga Negara AS Ditahan di Korea Utara |
Peringatan 25 tahun dimulainya Perang Korea bisa jadi opsi untuk digunakan sebagai waktu pelaksanaan uji coba nuklir.
Masalahnya, jika terlalu dalam membaca pola ini, Pyongyang bisa menyadari bahwa dunia memerhatikan dan mereka pun bisa segera merespons.
"Mereka tidak perlu melaksanakan tes terpaku pada tanggal tertentu."
Kapal induk Carl Vinson saat ini sedang dalam perjalanan ke perairan Korea, merespons ancaman tersebut. Sementara itu, kapal selam nuklir AS yang didesain untuk meluncurkan ratusan rudal jelajah Tomahawk sudah bersandar di Korea Selatan, di tengah situasi yang terus memanas ini.