Kemenangan politikus tengah berhaluan 39 tahun atas pesaingnya yang berhaluan ekstrem kanan Marine Le Pen dalam pemilihan umum akhir pekan lalu menjadi angin segar bagi Uni Eropa yang khawatir akan ancaman serupa kepergian Inggris dan kekuasaan populis seperti Donald Trump di AS.
"Dia membawa harapan jutaan warga Perancis, dan banyak orang di Jerman dan seluruh Eropa," kata Kanselir Jerman Angela Merkel dalam konferensi pers di Berlin, dikutip Reuters, Selasa (9/5).
Lihat juga:Trump dan Macron Sepakat Bertemu di Brussel |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker menyatakan dengan tegas: "Dengan Perancis, kita punya masalah tertentu .. warga Perancis menghabiskan terlalu banyak uang dan mereka menghabiskannya di tempat yang salah."
Nilai tukar euro terhadap dolar jatuh dari titik tertingginya selama enam bulan saat Macron dikonfirmasi menang mutlak dengan perbantingan 66-34 persen. Para investor mengambil keuntungan saat nilai mata uang itu meningkat sekitar 3 persen sejak kemenangan Macron di putaran pertama.
"Tahun ini, saya ingin Emmanuel Macron berada di sini dengan saya sehingga obor bisa diteruskan," kata Hollande, tampil bersama Macron di Makam Tentara Tak Dikenal di Arc de Triomphe untuk memperingati Hari Kemenangan di Eropa dan menyerahkanya pasukan Nazi pada 8 Mei 1945, mengakhiri Perang Dunia II.
Di tempat-tempat lain di Paris, lebih dari 1.500 orang, dipimpin oleh federasi buruh CGT, memprotes rencana Macron meliberalisasi undang-undang buruh.
"Jika ia meneruskan ide soal perintah eksekutif pada Juli, artinya, dia akan menepikan konsultasi dan dialog, sehingga bagaimana pun akan ada masalah. Kita akan lihat," kata Jean Claude Mailly, sekretaris jenderal perserikatan kiri garis keras Force Ouvriere kepada stasiun radio France Info.