Kim, pemimpin negara terisolasi itu, menuding Amerika Serikat mengintimidasi negara-negara yang tidak mempunyai nuklir dan memperingatkan Washington bahwa wilayahnya berada dalam jangkauan serangan Korea Utara, kata kantor berita KCNA seperti dikutip Reuters, Senin (15/5).
Korut meluncurkan rudal balistik yang jatuh di lautan dekat Rusia, Minggu. Serangan itu disebut Amerika sebagai pesan unuk Korea Selatan yang, bersama presiden barunya, berniat untuk mengajak Korea Utara untuk bernegosiasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Uji tembak itu bertujuan untuk memverifikasi spesifikasi taktis dan teknis dari rudal balistik baru yang bisa membawa hulu ledak nuklir berat skala besar," kata KCNA.
"Jika Amerika serikat dengan konyol mencoba untuk memprovokasi Republik Rakyat Korea Utara, mereka tidak akan lolos dari bencana terbesar sepanjang sejarah, kata Kim, memberi peringatan keras agar AS tidak mengabaikan atau melupakan kenyataan bahwa daratan utama dan kawasan operasinya di Pasifik berada dalam jangkauan serangan Korea Utara yang siap untuk melakukan serangan balasan."
Namun, Komando Pasifik militer AS menyatakan rudal yang diluncurkan terakhir "tidak konsisten dengan rudal balistik antarbenua."
Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pertemuan pada Selasa untuk membahas peluncuran terakhir yang dilakukan Korut, kata sejumlah diplomat. Pertemuan itu diajukan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Korea Selatan dan Jepang.