"Situasi ini sangat menyedihkan dan kami sedang berupaya untuk merebut kembali kendali Bangassou," ucap kepala misi MINUSCA Parfait Onanga-Anyanga, Senin (15/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jelas bahwa kita melihat jumlah korban insiden ini bisa meningkat dengan cepat hingga 20 hingga 30 orang," kata Verhoosel, seperti dikutip Reuters.
Ketua Palang Merah di wilayah itu, Pastor Antoine Mbao Bogo, mengatakan letupan senapan terus terdengar hingga Minggu (14/5), menghalangi upaya organisasinya itu memberikan pertolongan pertama pada para korban terluka.
Dalam beberapa bulan terakhir, bentrokan dan aksi kekerasan yang dipicu persaingan antar etnis dan agama terus meningkat di Bangassou.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam serangan ribuan milisi yang turut membunuh enam pasukan penjaga perdamainnya di sekitar Bangassou itu.
Senada dengan Guterres, Perdana Menteri Afrika Tengah Simplice Sarandji juga mengutuk pelaku penyerangan ini. Sarandji menekankan, pemerintah tak segan memboyong semua pelaku kekerasan ini ke ranah hukum.
Afrika Tengah merupakan salah satu negara yang telah lama di landa konflik sipil, khususnya kekerasan antar umat beragama yang mencuat sejak 2013 lalu. Konflik sipil tersebut bermula ketika pejuang Muslim Selaka berhasil menggulingkan Presiden Francois Bozize.
Penggulingan ini akhirnya memicu pembunuhan balasan oleh kelompok milisi Anti-Balaka terhadap umat Muslim di negara itu.