Persetujuan Trump untuk memasok persenjataan YPG yang hendak menggempur pertahanan kelompok teror ISIS di Raqqa diambil beberapa hari sebelum pertemuan dengan Erdogan. Masalah tersebut kini membayangi rencana pertemuan antara kedua sekutu NATO itu, dijadwalkan digelar pada Selasa waktu setempat (16/5) atau malam ini.
Ankara, rekan krusial dalam peperangan koalisi AS melawan ISIS, menilai YPG sebagai perpanjangan Partai Pekerja Kurdi (PKK). Kelompok itu selama ini melancarkan upaya pemberontakan di bagian tenggara Turki dan dicap sebagai teroris oleh pemerintah negara tersebut, juga Uni Eropa dan Amerika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erdogan menyampaikan itu dalam kunjungannya ke China, sebelum bertolak ke Washington dalam rangka pertemuan perdana dengan Trump.
Turki sempat berharap pelantikan Trump akan jadi babak baru dalam jalinan hubungan dengan Washington, setelah ketegangan jangka panjang dengan pemerintahan barack Obama soal kebijakan di Suriah dan tuntutan Ankara untuk mengekstradisi ulama Fethullah Gulen.
Erdogan menyambut kemenangan Trump dalam pemilihan umum November lalu dan menyatakan dirinya berharap momen ini akan berujung pada "langkah-langkah menguntungkan" di Timur Tengah. Ketika Erdogan menang tipis dalam referendum penambahan kekuasannya, April lalu, Trump menelepon untuk mengucapkan selamat sementara politisi Eropa lebih memilih bungkam.
Namun, harapan itu mendapat hantaman keras pekan lalu. Keputusan untuk mempersenjatai YPG "sama dengan menanam dinamit di bawah hubungan Turki-AS," kata seorang pejabat senior Turki.
"Ketika hubungan kedua negara, yang rusak di masa pemerintahan Obama, baru saja diperbaiki, keputusan Turki untuk menjauh dari sekutu terbesarnya bakal jadi tanda yang sangat buruk," ujar pejabat yang enggan disebutkan namanya itu kepada Reuters.
"Ini adalah fitnah dari pemerintahan Obama. Sayangnya, mereka kini meninggalkan masalah Suriah dan Irak di pangkuan trump," kata Erdogan di China.
[Gambas:Video CNN]
Erdogan akan memberi tahu Trump bahwa mendukung pasukan Kurdi untuk merebut kembali wilayah Arab dari ISIS akan menuai krisis di masa yang akan datang. Selain itu, pasukan lain di kawasan, termasuk pemimpin Kurdi Irak juga menentang YPG, kata pejabat Turki anonim tersebut menambahkan.
Setelah pembicaraan dengan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis di London pekan lalu, Perdana Menteri Turki Binali Yildrim mengatakan pertemuan Trump-Erdogan akan jadi kesempatan untuk "memperbaiki kesalahan" Amerika mendukung YPG.
Erdogan tidak menyebutkan aksi apa yang mungkin diambil Turki jika Washington melanjutkan rencananya.
Sejumlah pejabat menyiratkan, Turki bisa meningkatkan serangan udara di pangkalan-pangkalan PKK di Irak utara, atau sasaran YPG di Suriah. Mereka juga bisa membatasi penggunaan pangkalan udara Incirlik sebagai basis serangan udara AS melawan ISIS di kedua negara konflik.
Namun, hal tersebut juga bisa menghambat operasi pemberantasan teror yang juga mengancam Turki dan mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan, termasuk pengeboman bandara Istanbul pada Juni 2016.
"Tidak mudah untuk mereka mengembalikan hubungan baik kedua pihak," kata Ozel. "Saya pikir pada akhirnya sebuah formula penyelesaian akan ditemukan. Saya pikir, kedua pihak tidak mau memutus hubungan."