Sebagian besar toko dan perusahaan di San Cristobal, ibu kota Tachira di perbatasan Kolombia, tidak beroperasi dan dijaga oleh tentara, Rabu waktu setempat (18/5). Walau demikian, sejumlah warga yang diwawancara Reuters mengatakan penjarahan masih berlangsung di daerah-daerah yang kesejahteraannya lebih rendah.
Orang-orang berlarian membawa barang seperti kopi, popok hingga minyak goreng. Krisis ekonomi yang brutal membuat negara OPEC ini kekurangan bahan pokok dan obat-obatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah Maduro menuding mereka mencoba melakukan kudeta dan menyebut kebanyakan demonstran tidak lebih dari "teroris." Perusahaan minyak milik pemerintah, PDVSA, juga menyalahkan pemblokiran jalan atas kekurangan pasokan bahan bakar di negara tersebut.
"Ibu meminta Jose membeli tepung untuk makan malam, kemarin, dan tidak lama setelah itu, kami menerima kabar dia terluka kena tembak," kata Maria Contreras, yang masih menunggu jenazah saudara kandungnya itu untuk dibawa ke pemakamman San Cristobal.
Kejaksaan pun mengonfirmasi kematian Guererro. Dengan demikian, setidaknya sudah ada 43 orang yang tewas dalam kerusuhan selama enam pekan ini, setara dengan protes 2014.
"Tujuan penjelasan ini adalah untuk memastikan semua orang menyadari situasi yang terjadi ... kami tidak meminta aksi Dewan Keamanan," kata Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley kepada wartawan.
"Masyarakat internasional mesti menyatakan, 'hargai hak asasi manusia wargamu sendiri atau keadaan ini akan berujung seperti yang sudah-sudah' ... Kami sudah melihat ini di Suriah, Korea Utara, Sudan Selatan, dengan Burundi, dengan Myanmar."
"Turut campur AS memicu aksi kelompok kekerasan di Venezuela," ujarnya, menunjukkan foto-foto vandalisme dan kekerasan yang menurutnya diakibatkan pendukung oposisi.