"Ini sangat buruk, peran Twitter [membantu Donald Trump]. Jika memang benar Donald Trump bisa menjadi presiden dengan peran Twitter, maka saya minta maaf," kata Williams, Senin (22/5).
Komentar itu dilontarkan Williams ketika diminta menanggapi pernyataan Trump pada Maret lalu yang menganggap Twitter telah banyak membantunya untuk bisa berada di Gedung Putih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak duduk di Gedung Putih dan mengambil alih kendali akun Twitter @Potus--akun Twitter resmi presiden AS--dia memiliki tambahan pengikut sebanyak 17 juta.
Meski tak sedikit pengguna yang mengkritik Trump, Twitter kerap digunakan secara ekstensif oleh para pendukungnya untuk membela orang nomor satu Amerika itu dengan membantu menjelek-jelekan rivalnya dari Partai Demokrat, Hilary Clinton.
The Wall Street Journal melaporkan, sejumlah anggota tim Trump telah mengingatkan pria berusia 70 tahun itu bahwa kicauannya selama ini "berisiko menyudutkan citranya" baik secara politik maupun hukum.
Sebab, tak jarang Trump melontarkan kritik keras terhadap sejumlah pihak yang dianggap berupaya menyudutkannya. Salah satunya, dia pernah berulang kali menyerang surat kabar New York Times yang dianggapnya sebagai organisasi "gagal."
Tak hanya itu, Trump bahkan menuding pendahulunya Barack Obama telah menyadapnya melalui kicauan di Twitternya tanpa membeberkan bukti konkret.
Menurutnya, kebebasan berkicau di Twitter ini menjadi satu kelemahan yang dimanfaatkan kaum ekstremis dan sejumlah oknum lain untuk melakukan pelecahan serta penghinaan terhadap orang lain.
"Saya pikir ketika orang bisa berbicara, bertukar informasi, dan gagasan dengan bebas dunia secara otomatis akan menjadi lebih baik lagi. Ternyata saya keliru," kata Williams, seperti dikutip The Independent.