"Sampai polisi dan pasukan bersenjata mengatakan Filipina aman, darurat militer akan terus berlanjut. Saya tidak akan mendengarkan yang lain. Mahkamah Agung, kongres, mereka tak di sini," ujar Duterte sebagaimana dikutip AFP, Senin (29/5).
Melanjutkan pernyataannya, Duterte kemudian berkata, "Apakah mereka yang sekarat dan kehilangan darah, berdarah, dan mengalami pendarahan berat karena tidak ada bantuan? Bukan mereka."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam konstitusi tersebut, ditetapkan bahwa seorang presiden harus mengajukan laporan kepada kongres mengenai alasan penerapan darurat militer.
Kongres kemudian dapat menghentikan darurat militer yang memiliki batas waktu hingga 60 hari. Jika presiden memutuskan untuk memperpanjang darurat militer, ia harus kembali mengajukan alasan dan laporan.
"Mereka bilang, setelah 60 hari saya harus ke kongres. Saya tidak tahu," tuturnya.
Tak hanya itu, menurut konstitusi Filipina, Mahkamah Agung juga dapat mempertanyakan keabsahan darurat militer jika diberlakukan sebelum presiden melapor. Namun menurut Duterte, MA tidak mengerti situasi di lapangan.
"Mahkamah Agung akan mengatakan mereka akan mempertimbangkan menggunakan basis faktual. Saya tidak mengerti. Mereka bukan tentara. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di lapangan," katanya.
Duterte memberlakukan darurat militer pada pekan lalu, setelah terjadi bentrokan berkelanjutan antara militer Filipina dan kelompok militan Maute di Marawi yang sudah menewaskan puluhan orang.
Saat memberlakukan darurat militer, Duterte memberikan kewenangan kepada tentara untuk menangkap seseorang tanpa surat perintah.
Pernyataan ini bertolak belakang dengan pernyataan resmi pemerintah yang berisi, "Tak ada seorang pun yang dapat ditahan tanpa perintah dari pengadilan sipil."