Takut akan kehadiran ISIS yang dirasa kian nyata, Duterte mengatakan akan memperlakukan gerilyawan komunis dan separatis sama seperti tentara pemerintah jika mereka mau bergabung bertempur melawan kelompok Maut yang menyatakan berbaiat pada ISIS belakangan ini.
Eks Wali Kota Davao itu menyatakan bisa menciptakan sebuah divisi baru untuk mengakomodasi pemberontak, yang menurutnya memiliki pengalaman dan penguasaan medan tempur yang bisa dimanfaatkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ajakan ini muncul seiring dengan perlawanan berat yang dihadapi militer di Marawi. Sejak awal pekan lalu, Filipina telah mengerahkan pasukan militer dan helikopter perang ke Marawi guna memberangus militan di wilayah itu.
Sekitar 61 militan, 15 pasukan keamanan, dan sembilan warga sipil tewas dalam bentrokan tersebut, mendorong puluhan ribu warga sipil yang terpaksa mengungsi ke luar kota.
Duterte menyebut, pendiri sekaligus pemimpin MNLF, Nur Misuari, telah mengirimkannya surat berisikan pernyataan bahwa pasukan MNLF bersedia bergabung secara sukarela dengan pemerintah dalam pertempuran di Marawi dan sejumlah wilayah lainnya di Provinsi Lanao del Sur.
Duterte juga meminta oposisi komunis New People's Army (NPA) menghentikan perang gerilya dan mulai bekerja sama dengan pemerintah.
Tawaran kepada kelompok separatis ini datang setelah Duterte membatalkan pembicaraan damai terakhir dengan NPA, menuding pemberontak merencanakan lebih banyak perlawanan terhadap pemerintah.
Meski begitu, sejauh ini belum ada respons dari para pemimpin kelompok pemberontak soal penawaran terbaru dari Duterte tersebut.