Al Thani mengatakan keputusan negara koalisi Saudi untuk memutus hubungan diplomatik dengan Doha terjadi setelah "peretasan" kantor berita Qatar, QNA, berlangsung pada pekan lalu.
"Ini menunjukkan bahwa media [yang didanai Saudi dan UAE] membuat berita palsu dan membuat kebohongan untuk menyerang Qatar," tutur Al Thani, Selasa (6/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hacker juga disebut memalsukan pernyataan Sheikh Tamim yang menyebut bahwa dirinya mendukung Israel dan menganggap Presiden Amerika Serikat Donald Trump tak akan lama berkuasa.
Meski pemerintah Qatar membantah, pernyataan itu menjadi berita besar di sejumlah media negara teluk lainnya hingga menimbulkan kecaman terhadap Doha.
Negara-negara tersebut bahkan menutup seluruh akses perhubungan dengan Qatar, mengimbau semua warga negaranya yang berada di negara tersebut segera pulang.
Pemutusan hubungan ini dilakukan Saudi Cs dengan dalih keamanan nasional, menuding Qatar mendukung pemberontak dan teroris di Yaman seperti ISIS, Al-Qaidah, hingga Ikhwanul Muslimin--gerakan Islam tertua di dunia.
Al Thani menuturkan, hingga kini negaranya tak mengerti alasan sebenarnya dibalik pengucilan oleh negara Arab tersebut.
"Jika memang ada alasan nyata untuk krisis ini, seharusnya bisa dibahas dalam pertemuan GCC yang berlangsung beberapa minggu lalu. Tapi tidak ada yang membahas persoalan ini," kata Al Thani dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera.
"Negara yang bersengketa juga tak mengatakan apa-apa saat KTT Negara Islam-AS di Riyadh beberapa waktu lalu. Jadi tidak ada penjelasan [terkait krisis ini], kami tidak memiliki indikasi bahwa krisis seperti ini akan segera meletus," ujarnya menambahkan.