Saudi menyebut langkah yang belakangan diikuti oleh Mesir, Libya dan Maldewa itu dilakukan akibat keterlibatan Doha yang diduga mendukung terorisme dan Iran--musuh bebuyutan Riyadh.
Namun, Menurut Yon Machmudi, Ketua Penelitian dan Publikasi dari Pusat Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, perceraian Saudi Cs dengan Qatar dipengaruhi oleh obsesi Riyadh untuk menjadi yang terkuat di kawasan.
Lihat juga:Qatar dan Tudingan Ekstremisme Tanpa Akhir |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gejolak Qatar dan Saudi, tutur Yon, terlihat saat Riyadh memutus hubungan dengan Iran dan meminta negara lain melakukan hal yang serupa. Di saat negara Timur Tengah lain menjauh dari Iran, Qatar tak melakukannya. Doha masih menjalin hubungan diplomatik bahkan kerja sama ekonomi dengan Teheran.
Sebagai negara yang memiliki cadangan gas terbesar di kawasan, Qatar merupakan pemasok gas utama Iran. Kedua negara juga berbagi hak eksplorasi gas di wilayah bagian selatan Qatar yang dikenal North Field.
"Kedekatan Qatar-Iran menjadi hal sensitif dan tidak disukai Saudi. Ini juga bisa menjadi salah satu pemicu [krisis diplomatik Qatar-negara Arab]," ujar Yon.
Kedekatan Doha-Teheran juga dianggap menjadi salah satu alasan negara bersengketa untuk menjauhi Qatar.
Sejauh ini, Saudi Cs mengaku perceraian dengan Qatar perlu dilakukan dengan dalih keamanan nasional, menuding Doha mendukung pemberontak dan teroris seperti ISIS, Al-Qaidah, hingga Ikhwanul Muslimin--gerakan Islam tertua di dunia.
Lihat juga:Emir Kuwait Desak Qatar Redakan Ketegangan |
Yaman akhirnya ikut memutus hubungan diplomatik dengan Qatar. Selama ini, pemerintah Yaman mendapat banyak bantuan dari koalisi Saudi untuk memberangus pemberontak di negaranya.
[Gambas:Video CNN]
Lebih Demokratis
Selain itu, Qatar juga lebih demokratis dibandingkan negara lainnya di kawasan. Hal ini, bisa menjadi ancaman bagi pemerintahan monarki di Timur Tengah.
Yon menyebut, Qatar menjadi salah satu negara yang mampu tetap bersikap bebas dan independen di tengah perseteruan Saudi-Iran untuk memperebutkan kekuasaan di kawasan.
"Qatar tidak seluruhnya menolak atau menerima baik Saudi atau Iran. Beberapa tahun terakhir, Qatar menunjukkan posisi yang lebih independen dibandingkan negara lain. saya kira ini mengusik kenyamanan Saudi," ucapnya.
Hal itu, tutur Yon, terlihat dari sikap Qatar yang selama ini menjadi tempat suaka bagi para intelektual dan aktivis terlarang yang menurut beberapa rezim di Timur Tengah menganggu pemerintahan monarkinya.
"Qatar diminta mengembalikan dan menertibkan mereka [para aktivis dan oposisi] tapi tidak mau karena Doha tak memiliki aturan itu dalam konstitusinya," tuturnya menambahkan.
Dia mengatakan Qatar merupakan negara unik karena berbeda dengan negara lain di kawasan--seperti UAE--yang memiliki kewenangan dalam undang-undang untuk menertibkan oposisi pemerintah bahkan menganggap mereka sebagai teroris.
Karena itu, bagi Yon, tak aneh jika solidaritas negara di Timur Tengah rendah. Sebab, mereka saling bersaing untuk menjadi yang terkuat di kawasan.