Guenther Oettinger, anggota Komisi Eropa dari Jerman, mengatakan masih belum jelas apakah negosiasi bisa dilancarkan pada Senin, 19 Juni, sesuai rencana. Kelangsungan pembicaraan itu bahkan lebih dipertanyakan tanpa rekan negosiasi yang kuat, ujarnya.
Seorang pejabat lain di Brussels mengatakan masih terlalu dini untuk berspekulasi soal reaksi pihaknya pada perubahaan keinginan warga Inggris meninggalkan Uni Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, Inggris pun akan masuk ke periode politik "parlemen gantung", di mana tak ada partai mayoritas dalam parlemen.
May sebagai perdana menteri lantas dapat mencoba membentuk pemerintahan, baik itu dengan kekuatan minoritas atau membentuk koalisi.
Namun, jika May gagal membentuk pemerintahan atau tidak mendapatkan mosi kepercayaan, ia harus mengajukan pengunduran diri kepada Ratu Elizabeth II.
Kerajaan kemudian akan memberikan kesempatan kepada Jeremy Corbyn, pemimpin Partai Buruh selaku oposisi terkuat, untuk membentuk pemerintahan. Jika ia juga gagal, parlemen dapat dibubarkan dan pemilu kembali diselenggarakan.
Sempat berkampanye menentang Brexit tahun lalu tapi menjabat sebagai perdana menteri setelah David Cameron kalah dalam referendum, May menyampaikan syarat-syarat untuk menarik Inggris keluar dari Uni Eropa, Maret lalu.
Hal tersebut juga diharapkan oleh sebagian besar pejabat di Brussels. Pemerintahan May yang lebih kuat mereka anggap bakal bisa lebih sedikit berkompromi dengan Uni Eropa dan menahan tekanan faksi pro-brexit garis keras di partainya sendiri, yang memintanya menolak syarat-syarat UE dan melangkah begitu saja tanpa kesepakatan.
Para pemimpin Eropa secara umum sudah menyerah soal kemungkinan Inggris berubah pikiran dan memutuskan tetap berada di organisasi tersebut. Saat ini, kebanyakan dari mereka tampak lebih menginginkan negara dengan ekonomi kedua terbesar di benua biru itu pergi dengan cepat dan mulus.