Warga Qatar yang mengenakan gamis putih tradisional menunggu di mobil SUV di perbatasan, sembari mencoba mengenali unta-unta yang berjalan di perbatasan, menerbangkan debu di setiap langkahnya, di bawah kesepakatan yang disebut para pemilik hewan itu sebagai perjanjian informal dengan petugas perbatasan Saudi.
"Alhamdulillah unta saya kembali!" kata Ali Magareh, 40, menunggu bersama putranya yang berusia tujuh tahun di titik pertemuan, sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (20/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat suku tradisional di Qatar yang keluarganya tersebar hingga melampau perbatasan di Semenanjung Arab, mengatakan boikot itu mengancam tradisi, termasuk kebiasaan menggembala unta dan memburu menggunakan elang.
Ratusan warga Qatar menempatkan unta di wilayah padang pasir bagian timur Arab Saudi selama musim dingin guna melatih dan mengembangbiakkan mereka untuk balapan dan kontes kecantikan--adat yang dipandang sebagai hubungan penting dengan masa lalu nomaden penduduk padang pasir. Unta-unta juga dijual dalam pelelangan seharga ratusan ribu dolar.
Pemerintah Qatar mengirim konvoi tanker air dan truk yang membawa rumput ke perbatasan untuk memelihara unta-unta yang baru melintasi perbatasan.
Sebelum penemuan cadangan minyak melimpah di lepas pantai yang membuat Qatar menjadi salah satu negara terkaya di Timur Tengah, suku Bedouin berkelana di padang pasir dan bergantung pada daging dan susu unta untuk bisa bertahan hidup.
"Kami berperang menggunakan unta," kata Magareh. "Ini adalah salah satu tradisi kami. Tidak punya unta di Qatar sama dengan koboi yang tidak punya sapi."
"Kami hanya ingin menjalani hari-hari kami, pergi ke Arab Saudi dan merawat unta-unta kami dan kembali untuk mengurus keluarga kami. Kami tidak mau terlibat dalam masalah politik ini. Kami tidak senang."