Juru bicara Divisi Infanteri 1 Pasukan Gabungan Ranao, Jo-Ar Herrera, mengatakan bahwa jasad tersebut ditemukan bersama 12 jenazah lainnya pada Rabu (28/6) di Desa Gadungan.
"Jasad yang ditemukan ini diyakini merupakan warga tak berdaya yang dibunuh oleh teroris Maute-Abu Sayyaf. Ini merupakan contoh kebrutalan Maute. Mereka membunuh warga tak bersalah dengan darah dingin," ujar Herrera.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami belum dapat memastikan apakah mereka dipenggal atau tidak karena jasadnya sudah mulai busuk," katanya.
Namun, juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina, Restituto Padilla, belum dapat memastikan jumlah korban warga sipil yang tewas pasca ditemukannya 17 jenazah ini.
"Jumlahnya mungkin dapat berubah secara signifikan setelah kami dapat melakukan validasi semua informasi," tuturnya, sebagaimana dilansir Inquirer.
Selain mengurus korban tewas, militer Filipina juga masih sibuk menjaga para warga sipil yang terperangkap di tengah perang. Padilla memperkirakan, ada 500 warga sipil yang masih sering dijadikan tameng oleh para teroris.