Duterte Lindungi Pasukan yang Tak Sengaja Bunuh Warga Sipil
CNN Indonesia
Kamis, 29 Jun 2017 13:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, menegaskan bahwa ia akan melindungi pasukannya dari proses hukum jika mereka tidak sengaja membunuh warga sipil saat memerangi militan di Marawi.
Di sebuah acara televisi, Duterte mengaskan bahwa ia bukan menyuruh pasukannya untuk membunuh warga sipil. Namun, jangan sampai pasukan tidak bergerak karena takut melukai warga sipil.
"Adalah tugas warga sipil untuk melarikan diri atau mencari perlindungan," kata Duterte seperti dilansir The Guardian.
Duterte menegaskan, pasukannya yang telah berjuang melawan ISIS juga tidak akan dipenjara karena menyebabkan kematian tidak disengaja.
Dengan jaminan tersebut, Duterte memerintahkan pasukannya untuk menghabisi para militan yang berafiliasi dengan ISIS itu di Marawi.
Di sana, ratusan militan menduduki bangunan, menyandera seorang imam Katolik Roma, dan tokoh lainnya, serta mengibarkan bendera bergaya ISIS.
Pertempuran yang sudah menewaskan lebih dari 400 orang ini dimulai pada 23 Mei lalu. Bentrokan bermula ketika militer Filipina sedang melancarkan operasi penangkapan Isnilon Hapilon, orang yang disebut-sebut sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara.
Tak lama setelah bentrokan pecah, Duterte langsung mendeklarasikan darurat militer. Kini, ia pun mengaku tak akan ragu mengambil langkah darurat lainnya jika militan berpindah ke wilayah lain.
"Perintah saya kepada Anda, jika Anda melihat kelompok bersenjata yang bukan tentara nasional ataupun polisi, bunuh saja dia. Sebab, mereka akan membunuh kita," ucap Duterte sebagaimana dilansir The Guardian.
Pernyataan itu menimbulkan kekhawatiran kelompok pemerhati hak asasi manusia yang selama ini sudah prihatin dengan tewasnya ribuan pengedar narkoba tanpa proses peradilan jelas.
Di sebuah acara televisi, Duterte mengaskan bahwa ia bukan menyuruh pasukannya untuk membunuh warga sipil. Namun, jangan sampai pasukan tidak bergerak karena takut melukai warga sipil.
"Adalah tugas warga sipil untuk melarikan diri atau mencari perlindungan," kata Duterte seperti dilansir The Guardian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sana, ratusan militan menduduki bangunan, menyandera seorang imam Katolik Roma, dan tokoh lainnya, serta mengibarkan bendera bergaya ISIS.
Pertempuran yang sudah menewaskan lebih dari 400 orang ini dimulai pada 23 Mei lalu. Bentrokan bermula ketika militer Filipina sedang melancarkan operasi penangkapan Isnilon Hapilon, orang yang disebut-sebut sebagai pemimpin ISIS di Asia Tenggara.
Lihat juga:Sepupu Duterte Tewas di Medan Tempur Marawi |
"Perintah saya kepada Anda, jika Anda melihat kelompok bersenjata yang bukan tentara nasional ataupun polisi, bunuh saja dia. Sebab, mereka akan membunuh kita," ucap Duterte sebagaimana dilansir The Guardian.
Pernyataan itu menimbulkan kekhawatiran kelompok pemerhati hak asasi manusia yang selama ini sudah prihatin dengan tewasnya ribuan pengedar narkoba tanpa proses peradilan jelas.