Keduanya bertemu di Hotel Atlantic Kempinski Hamburg, Kamis waktu setempat (6/7), di mana keduanya saling berjabat tangan dan berbincang singkat sebelum meninggalkan wartawan.
Pemandangan ini kontras dengan yang ditunjukkan dalam pertemuan pertama mereka Maret lalu, saat Trump memberi sinyal bahwa hubungan kedua negara sedang merenggang.
Lihat juga:Memantik Ricuh di Panggung G20 |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Soal penyadapan saya rasa oleh pemerintahan sebelumnya, setidaknya kami punya kesamaan," kata Trump sambil menoleh ke Merkel.
Ia tidak tersenyum. Tampaknya, candaan itu tidak membuatnya senang.
Prioritas pertemuan G-20 termasuk perubahan iklim, imigrasi dan perdagangan. Dalam semua topik itu, Trump mempunyai pandangan yang berseberangan dengan para pemimpin Eropa.
Bahkan, Merkel semakin memanaskan suasana lewat pidatonya di hadapan Parlemen, bulan lalu.
"Siapapun yang meyakini masalah dari pekerjaan ini bisa diselesaikan dengan isolasionisme dan proteksionisme jelas membuat kesalahan besar," kata Merkel, jelas menyinggung Trump yang menjanjikan nasionalisme, pengetatan keamanan perbatasan, perjanjian perdagangan lebih ketat.
Hubungan Trump dengan Merkel memang dingin, bahkan sejak sebelum konglomerat itu terpilih menjadi pemimpin Negeri Paman Sam. Saat itu, ia kerap mempertanyakan kebijakan imigrasi pemimpin Jerman tersebut.
"Apa yang terjadi di Jerman, dulu saya selalu berpikir Merkel adalah pemimpin yang hebat (tapi tidak lagi). Apa yang dia lakukan di Jerman itu gila. Itu gila. Mereka mendapatkan banyak serangan sekarang," kata Trump dalam wawancara 2015 lalu.