Berdasarkan data statistik yang dikumpulkan Kementerian Unifikasi Korsel, dari awal tahun hingga Juni kemarin, hanya ada sekitar 593 warga Korut yang membelot ke Korsel.
Jumlah ini turun sekitar 20.8 persen dari tahun 2016 dalam periode yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diberitakan AFP, Kementerian Unifikasi Korsel menuturkan, sejak akhir 2015 lalu, Korut terus memperketat penjagaan perbatasan dengan China, membangun pagar listrik berkekuatan tinggi di sepanjang Sungai Tumen.
Selama ini, zona demilitarisasi (DMZ) yang memisahkan perbatasan Korut dan Korsel disebut sebagai tempat dengan pengamanan paling ketat di dunia. Imbasnya, tak banyak pembelot Korut yang menggunakan jalur itu untuk melarikan diri dari negaranya.
Hingga kini, terhitung sedikitnya 30.805 warga Korut telah membelot ke Korsel.
Sebagian dari mereka melarikan diri dari Korut sekitar tahun 1990-an saat negara di Asia Timur itu diterjang krisis kelaparan.
Seiring memuncaknya jumlah pelarian pada 2009 lalu, pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong-un memerintahkan sanksi keras terhadap para pembelot dan peningkatan penjagaan di perbatasan sejak 2011 lalu.